GLM di Tengah Pandemi

Oleh Hamidulloh Ibda

Apa yang kita rumuskan sejak 2018, yaitu Gerakan Literasi Ma’arif (GLM) di bawah Bidang Diklat dan Litbang LP Ma’arif PWNU Jateng mengalami banyak cerita. Kami mengklaim, hanya LP Ma’arif PWNU Jateng yang memiliki GLM, ya karena konsep dan realisasi serta indikatornya jelas.

Apa itu GLM? Kadang, rekan-rekan sering menyebut “Gerakan Literasi Madrasah”, padahal tidak. Dulu, awalnya memang terpikir GLM adalah Gerakan Literasi Madrasah. Tapi, ini sangat diskriminatif karena LP Ma’arif itu tidak hanya menaungi madrasah, tapi juga sekolah. Sedangkan Kemdikbud dari awal lewat Gerakan Literasi Nasional memang sudah menggagas Gerakan Literasi Sekolah. Kalau kita paksa, jadi blunder nanti.

Maka, kami merumuskan dengan nomenklatur “Gerakan Literasi Ma’arif” atau GLM yang jelas muaranya pada madrasah dan sekolah, bahkan untuk mahasiswa, dosen-dosen NU dan nahdliyin pada umumnya. Sejarah singkat nama GLM kira-kira begitu.

Dus, apa itu GLM? Di dalam buku Dalam buku Modul dan Panduan Teknis Gerakan Literasi Ma’arif (GLM) (2019: 2), kami menulis dan mendefinisikan bahwa GLM adalah gerakan, usaha, program yang terstruktur, sistematis, terencana dalam meningkatkan kualitas literasi di dalam pembelajaran maupun luar pembelajaran di sekolah dan madrasah LP Ma’arif dari jenjang SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA yang dikuatkan melalui karakter yang bersumber dari Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dan Aswaja Annahdliyah.

GLM dapat dilakukan di dalam dan luar pembelajaran, dapat dilakukan pula dengan praktik sinergi maupun mandiri dengan tiga pola yaitu “pembelajaran, pembiasaan, dan keteladanan”. GLM sangat fleksibel karena dapat dikembangkan sesuai pengetahuan lokal (local knowledge), kecerdasan lokal (local genius), dan kearifan lokal (local wisdom) di masing-masing sekolah dan madrasah.

Seiring berkembangnya waktu, jika dulu GLM hanya fokus pada tiga jenis karya, yaitu karya tulis jurnalistik, karya tulis ilmiah, dan karya sastra, kini GLM juga mengangkat karya digital yang menguatkan konten-konten digital untuk kemajuan literasi dan juga ideologisasi.

Program Diklat GLM part 1 sudah terlaksana pada Desember 2019, selama tiga hari di Wonosobo yang diikuti guru-guru dari Kabupaten Wonosobo, Temanggung, Kota dan Kabupaten Magelang, Kabupaten Banjarnegara, dan perwakilan dari Kabupaten Kebumen. Namun usai Rakerdin di awal 2020, tim GLM ingin turun ke bawah (turba), namun karena dampak pandemi, maka terinisiasilah program GLM edisi 2 dan seterusnya melalui webinar.

Program GLM di Tengah Pandemi

Di tengah pandemi covid-19 ini, Tim GLM mengambil langkah cepat, mungkin begitu. Pada GLM part 2, yaitu Kuliah Literasi dan Jurnalistik dengan materi Wawasan Literasi dan Jurnalistik dengan pemateri Junaidi Abdul Munif, dan Teknis Penulisan dan Pengiriman Berita dengan pemateri Hamidulloh Ibda pada 15 Juni 2020.

GLM part 3 mengangkat materi Kuliah Sastra dengan materi Puisi dan Teknis Penulisannya dengan mendapuk Muhammad Rois Rinaldi, sedangkan Cerpen dan Teknis Penulisannya diisi Eko Sam pada 22 Juni 2020.

GLM part 4 dengan materi Kuliah Artikel Ilmiah, mendapuk Farid Ahmadi, Ph.D dengan materi Pengantar Artikel Ilmiah, dan materi Strategi Publikasi Artikel Ilmiah di Jurnal (OJS, Manajemen Referensi, dan Aplikasi Deteksi Plagiasi) yang diisi Hamidulloh Ibda pada 29 Juni 2020.

GLM part 5 dengan materi Kuliah Artikel Populer dengan materi Artikel Populer dan Teknik Dimuat di Media Massa oleh Hamidulloh Ibda, dan Esai Populer dan Teknik Dimuat di Media Massa oleh Junaidi Abdul Munif pada 6 Juli 2020.

GLM part 6 materinya adalah Kuliah Resensi dengan rincian, Tips Memilih Buku Berkualitas untuk Diresensi oleh Niam At-Majha, dan Tips Menulis Resensi Buku oleh Syaiful Mustakim pada 13 Juli 2020.

GLM part 7 dengan materi Kuliah Media Digital dan Youtuber. Pematerinya Limanto mengisi Literasi Media Digital, dan Miftakhul Khoiri mengisi Teknik Pembuatan Video pada 20 Juli 2020.

GLM part 8 dengan materi Kuliah Penulisan Buku/Bahan Ajar. Penulisan Bahan Ajar Mandiri diisi Edi Rohani, dan Pemilihan dan Pengembangan Bahan Ajar diisi Muammar Ramadhan besuk 27 Juli 2020.

GLM part 9 dengan materi Kuliah Media Aswaja Annahdliyah dengan materi Deteksi Peta Media Massa NU dan Media Islam Radikal oleh Hamidulloh Ibda. Sedangkan Karakteristik Aswaja Annahdliyah di Media Massa diisi Abdul Khalim pada 3 Agustus 2020.

GLM part 16 sebagai edisi eklusif, melanjutkan GLM part 9. Materinya tentang NU dan Politik Media. KH Hudallah Ridwan Naim didapuk menjadi pengantar diskusi, Ketua LP Ma’arif PWNU Jateng R. Andi Irawan didapuk mengisi NU dan Politik Media. Sedangkan Hamzah Sahal didapuk mengisi Wajah NU di Media.

Itulah GLM melalui webinar. Selain itu, Tim GLM melakukan langkah pendampingan dengan model peminatan tiap materi yang disampaikan melalui webinar. Apa saja?

GLM part 10, peminatannya adalah berita, artikel-esai populer, dan resensi dengan asuhan Hamidulloh Ibda, Junaidi Abdul Munif, dan Niam At-Majha pada 16 Juli 2020 – 16 November 2020.

GLM part 11 dengan peminatan artikel ilmiah yang diasuh Hamidulloh Ibda dan Junaidi Abdul Munif pada 5 Juli 2020 sampai 5 November 2020.

GLM part 12 dengan peminatan cerpen yang diasuh Eko Sam pada 28 Juni 2020 sampai 28 November 2020.

GLM part 13 peminatan puisi dengan asuhannya Niam At-Majha pada 28 Juni 2020 sampai 28 November 2020.

GLM part 14 peminatan video yang diasuh Miftakhul Khoiri pada 27 Juli 2020 sampai 27 November 2020.

GLM part 15 peminatan penulisan bahan ajar yang diasuh Hamidulloh Ibda dan Muammar Ramadhan pada 3 Agustus 2020 sampai 3 November 2020.

Beberapa Kendala dan Potensi

Meski konsep dan recananya bagus, kami di lapangan menemukan banyak kendala dan potensi. Pertama, masalah sinyal. Ya, banyak yang antusiasi, namun karena kendala sinyal, maka pelaksanaan webinar kadang tidak maksimal. Kedua, peserta rata-rata masih awam dengan aplikasi Zoom, sehingga mereka kadang lebih memilih live di Youtube. Ketiga, belum meratanya atau belum ada pembagian khusus antara pelajar dan guru. Ini menjadi masalah di lapangan, karena inginnya itu, guru dengan guru, pelajar dengan pelajar, bukan dicampur. Tapi realitasnya, pelajar masih sedikit yang mendaftarkan diri.

Sementara potensinya, pertama, geliatnya mengikuti sangat tinggi, dan ini membuktikan bahwa warga Ma’arif masih semangat belajar dan memajukan literasi di tengah pandemi. Kedua, dukungan dan keseriusan pemateri. Ketiga, dukungan dari rekan-rekan jurnal dan media massa yang senantiasa selalu menyiarkan berita-berita kita di tiap acara GLM. Keempat, adanya kelas peminatan yang tentu menjadi poin penting untuk mengasah skill lebih mendalam, karena literasi itu tidak berbicara teori, tapi aksi. Kelima, kami sebagai pengelola Jurnal Asna, penerbit dan percetakan ASNA Pustaka, Majalah Mopdik, akan berharap karya-karya mereka menjadi jurnal, artikel, esai, resensi, cerpen, puisi, buku, dan tentunya ini bisa menjadi momentum “panen karya” tanpa modal dan waktu luang untuk turba di daerah-daerah.

Itulah beberapa program sekaligus proyeksi ke depan dari Tim GLM yang muaranya pada tiga pilar literasi, yaitu membaca, menulis, dan mengarsipkan. Dus, adakah yang lebih indah selain melihat para guru dan pelajar Ma’arif literat dan semangat berkarya?

-Penulis adalah Koordinator GLM LP Ma’arif PWNU Jateng.

Exit mobile version