Pendidikan Nasionalisme di Ma’arif NU

Ilustrasi Republika

Ilustrasi Republika

Oleh Usman Mafrukhin

“Setiap insan yang memiliki hati yang jernih pasti akan mencintai negaranya tanpa pamrih”. (Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari).

Sebenarnya sangat banyak sekali praktik-praktik untuk mewuhudkan ekspresi bahwa kita memang benar insan yang nasionalis dan religius. Sebenarnya tulisan ini juga sedikit meriview dari buku Pendidikan Nasionalisme (Teori & Aplikasi) yang ditulis oleh saya pribadi.

Mulai dari sejarah Nasionalisme lahir di bumi pertiwi ini yang jelas bukan Nasionalisme produk eropa. Nasionalisme nusantara memiliki cirikhas tersendiri yang penuh akan khas budaya dan tradisi lokal yang ada. Menurut saya nasionalisme dapat berkembang seiring dengan kemajuan zaman dan IPTEK, nilai yang dapat diterapkan juga sangat mudah, artinya dari lingkup golongan masyarakat paling bawah sampai ke pemerintahan paling atas dapat mengekspresikan nilai Nasionalisme mereka versi mereka sendiri.

Contoh saja misalkan di pedesaan sebagai wujud masyarakat yang bernegara dan bangsa, praktik gotong royong “wong ndeso bangun ndeso” adalah masuk dalam kategori aplikasi nasionalisme. Ada lagi misal di Pesantren atau Sekolah, dengan mengamalkan nilai kelima butir pancasila juga merupakan nilai dari nasionalisme juga. Ada versi sendiri-sendiri dalam memaknai konsep nasionalisme dengan tanda kutip tidak melenceng dari nilai kebangsaan dan keagamaan.

Namun, nasionalisme harus dibentuk dan dibangun secara manifestasi melalui berbagai teori dan praktek sehingga mampu menghasilkan sebuah paradigma dan realita.

Dalam membangun ide nasionalisme secara utuh memerlukan pemahaman dan organisasi berbasis gerakan untuk bertransaksi secara sosial dengan masyarakat, sehingga pada akhirnya terjadi interaksi kuat antara organisasi dan massa dalam satu ide, yaitu nasionalisme.

Indonesia saat ini memerlukan genre baru untuk mereinterpretasikan ide nasionalisme yang secara fundamental telah dibangun oleh founding father seperti presiden pertama kita. Soekarno kita akui sebagai individu yang mampu membentuk nasionalisme Indonesia dengan membangun satu sistem berantai melalui penyatuan kepentingan. Dari kalangan Islam dan sekuler pada saat itu. Namun, dalam proses pembangunan tahap awal ideologi nasionalisme nampak terjadi dikotomi antara Islam dan Nasionalisme itu sendiri. Selain itu kiyai sekaliber K.H Wahab Hasbullah juga tokoh yang sangat getol mengaungkan antara nilai nasionalis dan juga religius.

Kita harus mengakui sebuah gagasan dalam masyarakat Indonesia yang majemuk tentu memerlukan proses. Di mana proses tersebut tentunya merupakan proses bersejarah dalam suatu bangsa. Saat ini nasionalisme sudah menjadi rapuh. Tentu kita harus mulai menghidupkan kembali spirit dan etika nasionalisme sebagai sebuah praktek politik negara dan masyarakat dalam konteks Indonesia kekinian di tengah-tengah arus revolusi industri 4.0 society 5.0.

Sumber dari kekuatan ideologi nasionalis saat ini memang belum ditemukan oleh banyak orang Indonesia sehingga ketika kita mencari arus apa yang seharusnya berada di depan kita sebagai energi yang menuntun kemajuan nasional negara dan masyarakat kita seringkali bimbang dan gelap. Apalagi dengan maraknya tudingan bahwa nasionalisme adalah thogut produk barat dan bertentangan dengan syariat agama islam, tentu dengan sentiment seperti inilah masyarakat yang memang belum matang gagasan bernegara akan goyah, karena pada dewasa ini serangan semacam itu yang paling laku untuk dijadikan alat merobohkan bangsa.

Pendidikan Nasionalisme di Sekolah Umum/Ma’arif

Terwujudnya pribadi yang nasionalis tentu harus ditanam sejak dini mungkin, setiap jenjang sekolah haruslah menanamkan aplikas nilai dari nasionalisme, karena pendidikan memiliki peran yang strategis yang bisa menberikan pelajaran dan pendidikan generasi penerus agar tidak menyimpang atau bahkan merugikan negara. Karena peserta didik sekarang merupakan aset di kemudian hari yang menjadi tongak untuk memajukan bangsa, ketika jiwa nasionalisnya saja tidak ada, maka gimana mau memajukan negara.

Disini peran pendidikan secara umum baik sekolah swasta, negri, maarif atau yang lainya harus andil di dalamnya, tanpa pendidikan, seleksi tidak mungkin terjadi sebab nilai budaya suatu negara hanya dapat diwariskan melalui pendidikan ke generasi selanjutnya. Tujuan akhir yang akan dicapai adalah pendidikan mampu menciptakan peserta didik yang berjiwa nasionalis.

Dimulai dari guru yang menjadi promotor sebagai pusat perhatian atau percontohan murid, ketika guru tidak mencerminkan perilaku yang tidak sesuai dengan butir pancasila maka tugas sekolah untuk menegurnya. Murid harus di gembleng melaluinpendidikan karakter yang baik hingga nanti terciptanya kecintaan terhadap bagsa negara, sekaligus mempertebal semangat kebangsaan serta rasa kesetiawanan nasional.

Banyak unsur pendidikan yang sudah berperan termasuk Maarif sendiri dalam hal ini. Dengan menyanyikan lagu Indinesia Raya dan mars Syubhanul wathan tentu ini sebagai aplikasi dari penanaman jiwa-jiwa yang nasionalis, juga melalui pendidikan karakter da pemahaman syariat yang nantinya dapat berkesinambungan dengan aspek nasionalisme.

Nasionalisme Ditambah Bismillah itu Islam

Mengutip kembali statemen dari K.H Wahab Hasbullah, bahwa Nasionalisme ditambah bismillah itulah islam. Tentunya itu menjadi suatu jawaban dari tudingan-tudingan kesesatan. Dan kalau kita sedikit flashback kebelakang, asal mula konsep Nasionalìsme nusantara memang murni berbeda dengan versi barat. Dahulu penyebaran Nasionalisme barat sekedar untuk ekspansi wilayah kekuasaan mulai dari Gold, Glory, Gospel.

Namun di bumi pertiwi nasionalisme kita memang benar-benar nasionalisme yang kental akan nilai masyarakat dengan kemajemukannya, senantiasa merangkul adat istiadat yang telah ada sejak dahulu. Dan jika di telaah lebih dalam lagi bahwa kelima butir pancasila adalah manufestasi dari ajaran syariat Islam. Alhasil yang menuding gagasan inu sesat, perlu untuk membaca kembali cakrawala sejaran bangsa Indonesia.

-Penulis adalah mantan Ketua Umum PMII Komisariat Trisula STAINU Temanggung, dan pengiat literasi di komunitas Pena Aswaja.

Exit mobile version