ArtikelOpini

Mengapa Harlah NU Ditolak Muhammadiyah?

Bagikan:

Oleh: Muallifah

Baru-baru ini, kejadian yang turut menyita perhatian di kalangan NU dan Muhammadiyah yakni penolakan acara Harlah NU yang semula akan diletakkan di Masjid Gedhe daerah Kauman ternyata  memperoleh penolakan dari pemuda Muhammadiyah lantaran menghadirkan Gus Muwaffik sebagai penceramah.

Sebagai generasi muda yang hidup sejak kecil di lingkungan NU, dengan keseharian serta budaya NU. Tulisan ini tentu bukanlah keberpihakan untuk membela organisasi besar yang sampai saat ini eksis di tatanan Indonesia sebagai Ormas besar. Pun jika tulisan ini merupakan alibi untuk membela NU, tak dibelapun, NU tidak akan kehilangan marwah hanya dengan penolakan kecil dengan berbagai alasan sosial yang akan muncul jika acara harlah NU tetap dilaksanakan.

Persoalan yang akan menjadi framing di media tidak pada alasan yang termaktub oleh pemuda  Muhammmadiyah, melainkan masyarakat justru ragu apakah benar-benar esensi pemahaman yang diajarkan Muhammadiyah ini mempersoalkan segala bentuk kesalahan yang fokus terhadap Gus Muwaffiq atau ada alasan lain dibalik itu. Jangan sampai, penolakan yang dilakukan oleh pemuda Muhammadiyah sangat disesali oleh para masayikh Muhammadiyah.

Nahdhlatul Ulama dan Muhammadiyah merupakan dua organisasi besar yang turut serta mempromosikan Islam Rahmatal lil ‘alamin untuk melihat  serta merespon berbagai kejadian yang berkenaan dengan isu radikalisme, terorisme. NU dengan Islam Nusantara serta Muhammadiyah dengan jargon Islam berkemajuan menjadi pertahanan kuat negara Indonesia yang akan mengawal negara ini sebagai ikon perdamaianan di dunia dengan keanekaragaman yang begitu kaya.

Penolakan yang dilakukan oleh pemuda Muhammadiyah justru akan menjadi keraguan publik, apakah benar-benar Islam yang dipahami oleh saudara kita sesama muslim Muhammadiyah mempersoalkan masalah kesalahan sepele dan sangat kecil kemudharatan yang akan berdampak pada publik.

Apalagi secara administratif, pihak NU sudah melayangkan surat untuk menjalin silaturrahim untuk keberlangsungan roda organisasi untuk berkolaborasi mewujudkan Indonesia hebat yang secara kolektif melawan radikalisme serta mempromosikan ajaran Islam Moderat. Pemuda NU sudah menunjukkan orientasi gerakan yang progres, kolaboratif serta tidak bertumpu pada kejumudan cara luhur yakni bersaing dengan organisasi yang berbeda.

Bagaimana mungkin, akan menarasikan Islam perdamaian jika hanya persoalan sesama umat muslim yang begitu kecil tidak bisa berdamai. Bagaimana seluruh umat bisa percaya, jika pemuda yang akan menjadi penerus dalam menyebarkan Islam moderat muncul dengan egoisme labil yang turut menyoalkan ideologi organisasi.

Menolak acara harlah NU demi menjaga kemashlahatan bersama merupakan hal yang wajib diikuti, sebab jika cara tersebut menimbulkan keresahan publik berasal dari manapun ajaran tersebut jika untuk kepentingan umum, masyarakat serta tidak bertentangan dengan ajaran Islam adalah kewajiban yang harus diikuti.

Namun, memasang spanduk yang berisi penolakan serta dibaca oleh masyarakat banyak justru menimbul kemudharatan yang lebih besar serta atensi yang akan diterima akan berdampak buruk terhadap kemashlahatan bersama. Kejadian tersebut menandakan bahwa oerientasi arah juang Muhammdiyah menandakan bahwa pemuda Muhammadiyah yang menolak adanya kegiatan tersebut terjangkit radikalisme dan intoleran serta phobia terhadap perbedaan yang terjadi pada sesama kaum muslim. Bukankah Islam mengajarkan kita untuk memilih sesuatu yang memiliki kemudharatan lebih kecil jika keduanya sama-sama mudharat. Wallahu A’lam.

-Penulis adalah mahasiswi IAIN Madura, Aktivis KOPRI PMII Madura.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan