ARD dan Objektivitas Nilai Siswa

Oleh M. Dalhar

Laporan penilaian siswa atau rapor dalam dunia pendidikan merupakan hal yang penting. Laporan tersebut dipakai untuk mengetahui capaian seorang murid atau siswa. Rapor diberikan setelah menempuh ujian semester, kondisi ini yang terjadi beberapa waktu belakangan.

Rapor – dalam pengucapan adalah rapot – merupakan laporan capaian siswa yang berisi nilai kepandaian dan prestasi belajar murid di sekolah, berfungsi sebagai laporan guru kepada orangtua atau wali murid (KBBI Online). Bagi para guru sekolah di bawah Kementerian Agama ada hal yang tidak biasa dalam penyusunan rapor pada semester ini. Hampir merata di beberapa sekolah atau madrasah sudah dipergunakan Aplikasi Rapot Digital atau ARD.

Aplikasi semacam ini bukan kali pertama digunakan. Pada semester sebelumnya sudah dipakai, tetapi karena kendala aplikasi menjadikan tidak semua madrasah menggunakannya. Akan tetapi, pada semester ini hampir semua madrasah – yang penulis ketahui di Jepara – sudah menggunakannya.

Sebelum penulis menggunakannya, ada banyak suara terkait dengan kesiapan aplikasi atau server yang dipakai. Ada yang menilai sistem belum siap, tetapi dipaksakan. Ada juga yang berpendapat terlalu sulit, dan beberapa opini yang mengindikasikan belum siapnya pihak sekolah untuk beranjak dari zona nyaman, rapor manual.

Zaman telah berubah. Dalam perihal aplikasi, penulis memiliki pengalaman tersendiri. Beberapa kali berhadapan dengan aplikasi atau server digital, yang perlu dipahami adalah alur kerjanya. Seperti apa sistem yang dipergunakan. Jangan sampai hanya latah atau asal ikut tanpa pengetahuan menyeluruh.

Jika demikian, setiap ada perubahan instruksi mengakibatkan mis persepsi. Sehingga alasan aplikasi eror, belum siap, sulit, dan seterusnya dijadikan sebagai kambing hitam. Atas beberapa pengalaman yang didapatkan di luar dunia sekolah, akhirnya sengaja penulis mengerjakan pada waktu-waktu terakhir, ketika sudah paham dan penyempurnaan server dari pihak terkait. Alhasil, dalam waktu setengah malam ARD dapat terselesaikan. Kesimpulannya, sebenarnya ARD tidak sesulit yang dibayangkan.

Penulis pun tidak tahu apakah aplikasi tersebut akan terus dilanjutkan ke depannya. Mengingat, Pak Menteri Nadhim tidak menghendaki adanya sistem yang “rumit” yang menjadikan para guru terlalu sibuk dengan sesuatu yang tidak substansial. Terlepas dari rumit atau tidaknya – karena berdasar pengalaman masing-masing pengajar – kehadiran rapor merupakan hal yang penting. Rapot berfungsi sebagai laporan guru atas hasil belajar siswa di sekolah kepada orangtua atau wali murid dalam periode tertentu.

Catatan
Ada beberapa hal penting yang perlu dievaluasi dalam pembuatan rapor. Pertama, objektivitas penilaian. Penilaian menggunakan aplikasi pada dasarnya belum mampu mendekati kondisi pada peserta didik. Dengan menggunakan aplikasi, nilai yang didapatkan oleh siswa harus “di-makeup” agar sesuai dengan standar yang sudah ditentukan aplikasi. Kondisi tersebut akan menjadikan para siswa “tertipu” karena bagaimanapun kondisinya di kelas akan mendapatkan nilai di atas standar. Alasannya sederhana karena sistem yang digunakan menghendaki hal semacam itu.

Kedua, pentingnya literasi teknologi. Penulis mengamati ada banyak guru yang belum sepenuhnya mampu mengoperasikan program-program penting, misalnya excel. Dampaknya, bagian Tata Usaha (TU) mendapatkan pekerjaan tambahan. Solusinya adalah dengan pembiasaan. Harus diakui, keterampilan dalam berteknologi perlu ditingkatkan dalam dunia pendidikan.

Dalam hal ARD, seringkali penulis jumpai adalah lebih banyak bersuara daripada berkerja. Bermacam keluhan disampaikan, bukan solusi. Aplikasi yang belum siap, sistem yang berubah-ubah, dan masih banyak lainnya. Ini adalah ekspresi sekaligus indikasi yang belum siap menghadapi perubahan dalam revolusi dunia pendidikan.

Evaluasi
Terlepas dari praktiknya model pendidikan yang baru, penguasaan teknologi dalam pembuatan laporan perlu dikuasai oleh para pendidik. Hendaknya laporan dapat dibuat sederhana dan mampu mencerminkan kondisi riil para peserta didik per semester. Penilaian yang objektif diharapkan dapat menyadarkan para siswa atas prestai yang dicapai dalam kurun waktu tertentu.

Mencapai hal itu, kerja sama dengan orangtua mutlak harus dilakukan. Pengambilan rapor oleh orantua tau wali bukan sekadar penyerahan biasa. Di dalamnya terdapat maksud agar para orangtua lebih punya perhatian kepada anak-anak mereka.

Meskipun nilai dapat rapot belum menentukan jaminan masa depan siswa ke depannya, dengan wujud nilai merupakan apresiasi atas usaha yang sudah dilakukan di sekolah. Di samping itu, dengan penilaian angka-angka dapat menunjukkan di mana kecenderungan para siswa didik.

Dengan begitu, rangking atau nilai bukan permasalahan pintar atau tidak, tetapi lebih pada kecenderungan minat dan bakat. Sekali lagi, dengan penilaian yang objektif hal tersebut dilakukan, bukan asal copy-paste sehingga penilaian yang dihasilkan jauh dari kondisi yang sebenarnya.

Bukan berarti setelah rapor dibagikan kepada orangtua siswa, tugas sebagai belajar mengajat telah selesai. Proses pengerjaan ARD untuk sementara waktu telah selesai dan ada kesempatan untuk beristirahat. Akan tetapi, hal yang perlu diingat poses untuk belajar tidak pernah berhenti. Belajar adalah proses terus-menerus sepanjang hayat, long live education.

-Pengajar Sejarah di MA Matholiul Ulum Banjaragung Jepara.

Exit mobile version