Pendidikan Akhlak Perspektif Ibnu Miskawaih

Oleh Hamidulloh Ibda

Ada pameo menjelaskan, “Dalam bangsa yang kuat, terdapat karakter yang kuat.” Pemeo ini menggambarkan betapa karakter merupakan suatu aset yang tak ternilai harganya dalam membangun suatu negara dan bangsa. Lihat saja, Jepang. Karakter Samurai yang penuh integritas dan penuh semangat juang telah menjadikan Jepang bangsa yang besar dan selalu berhasil bangkit dari berbagai malapetaka: mulai dari bom atom sampai gempa bumi.

Oleh karena itu, character building merupakan suatu keniscayaan apabila kita di Indonesia ingin bermetamorfosa dari sebuah negara dan bangsa yang sering dirundung masalah (seperti korupsi) menjadi bangsa yang besar di pentas dunia. Di sinilah, sektor pendidikan dapat memainkan peran strategis.

Nah, mengingat mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, khazanah pemikiran Islam secara logis tentu merupakan sumber yang kaya untuk memberikan kontribusi berharga bagi perumusan formula pendidikan character building. Adapun salah satu pemikir dunia Islam yang banyak memberikan perhatian pada isu tersebut adalah Ibnu Miskawaih (932 M – 1030 M).

Urgensi
Ibn Miskawaih adalah seorang filsuf Islam yang menemukan doktrin jalan tengah (The Golden Mean) dalam pendidikan karakter. Sudah lama John Locke telah mengemukakan konsep empirisismenya yang mengasumsikan manusia sebagai tabula rasa alias kertas putih bersih yang karakternya menunggu untuk diisi oleh pengajaran dari luar. Kemudian, Arthur Schopenhauer menggagas konsep nativisme yang beranggapan karakter manusia itu tergantung pada bakat bawaan di dalam dirinya.

Miskawaih telah meretas jalan tengah dengan mengatakan karakter manusia itu dibentuk oleh faktor dasar (nativisme) dan faktor ajar (empirisisme). Selanjutnya, dalam bahasa Miskawaih, karakter itu disebut sebagai akhlak. Sesuai dengan doktrin jalan tengah Miskawaih, pendidikan akhlak atau character building bertujuan membentuk akhlak yang bersifat tengah-tengah alias adil dan seimbang.

Maksudnya, pendidikan akhlak mesti secara serasi membentuk komponen-komponen akhlak dalam diri manusia sehingga manusia (baca: anak didik) dapat menjadi pribadi yang berakhlak mulia.

Ada tiga komponen akhlak dalam pemikiran Miskawaih. Pertama, komponen nafsu bertahan hidup yang terdiri dari naluri dan insting untuk makan-minum, berkembang biak, dan lain sebagainya. Tugas pendidikan akhlak untuk komponen ini adalah mendidik anak murid supaya tidak berlebih-lebihan dalam kenikmatan dan melampaui batas. Sebagai contoh, manusia harus diajarkan untuk tidak bersikap konsumtif dan menyukai gaya hidup berlebihan karena gaya hidup yang demikian acap berujung pada kejahatan ekonomi seperti kejahatan korupsi atau perbankan, misalnya.

Kedua, komponen keberanian. Peran pendidikan akhlak dalam konteks komponen ini adalah membuat anak didik tidak takut terhadap sesuatu yang seharusnya tidak ditakuti dan bukan pula berani terhadap sesuatu yang seharusnya tidak perlu ditantang. Misalnya, seseorang harus berani menentang ketidakadilan dan kezaliman, bukannya berani menentang norma-norma keadilan dalam masyarakat.

Ketiga, komponen akal. Tujuan pendidikan akhlak bagi komponen ini adalah membuat anak didik memiliki kemampuan rasional untuk membuat keputusan antara yang wajib dilakukan dan wajib ditinggalkan. Maka dari itu, seseorang yang melakukan kejahatan semisal korupsi sebenarnya boleh dikatakan sebagai seseorang yang tidak berakal karena ia tidak mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

Ketiga komponen inilah yang kemudian harus dipadukan secara selaras demi membentuk karakter yang berintegritas. Supaya tujuan itu tercapai, masing-masing komponen memiliki metoda pedagogisnya yang khas. Demi memperoleh keutamaan komponen nafsu dan keberanian, sebagai contoh, metodanya adalah memberikan keteladanan bagi anak didik. Sementara itu, komponen akal dapat digembleng dengan metode diskusi dan dialog liberal yang intinya mengarah kepada kesadaran pribadi dan pengembangan nalar.

Jelas pendapat pelik Miskawaih di atas memberikan pencerahan menarik terkait dengan upaya pendidikan karakter. Sebab, Miskawaih menyarankan penggabungan antara upaya mengasah daya kognitif dan daya praksis anak didik. Maksudnya, pelajaran karakter tidak sekadar diajarkan lewat buku atau ruang kelas yang steril. Melainkan, sang guru juga mengajarkan karakter lewat tindakan praktik yang mendekatkan anak didik pada realitas konkret yang terjadi di luar sana.

Tujuannya adalah memberikan teladan nyata bagi anak didik. Sekaligus, sintesis antara gagasan yang diajarkan di kelas dan realitas yang ada di masyarakat luas itu, diharapkan melahirkan suatu dialektika ide, sebuah dialektika yang akan merangsang diskusi dalam nalar dasar sang murid dan nalar ajar sang guru sehingga membentuk suatu akal budi mulia yang mampu membedakan antara yang baik dan buruk.

Maka dari itu, pendapat Miskawaih yang mengutamakan keteladanan dan diskusi gagasan tak pelak memberikan peran yang kian sentral bagi guru. Dalam artian, sang guru pendidikan karakter harus memiliki syarat-syarat berupa bisa dipercaya, pandai, dicintai, punya rekam jejak yang baik di masyarakat memiliki cinta terhadap ilmu dan tidak fanatik terhadap salah satu aliran agama atau ideologi mana pun.

Bahasa ringkasnya, seorang guru yang dibayangkan Miskawaih haruslah jujur, kompeten, berkomitmen kuat pada anak didik (sehingga ia dicintai), berintegritas, dinamis (karena terus belajar), dan toleran (pluralis). Apabila metoda pendidikan dan syarat guru ideal sumbangan pemikiran Miskawaih ini dapat diterapkan pada sistem pendidikan kita, niscaya kita akan memiliki pribadi-pribadi berkarakter kuat yang dapat memajukan bangsa ini. (*)

Exit mobile version