Pemuda +62, Antara Ilmiah dan Klenik

Ilustrasi maxmanroe.com

Oleh Hamidulloh Ibda

Rintik air hujan yang membelai gazebo kompleks kantor PWNU Jawa Tengah, malam Ahad kemarin sekira pukul 23.34 WIB menjadikan diskusi kami kian menarik. Duduk saling menunduk, ngopi sama sisi, bersama jajaran PWNU dan pengurus LP Ma’arif PWNU Jawa Tengah, saya melontarkan pendapat kontroversi, bahkan paradoks, pseudoscience: “Semakin manusia itu ilmiah, maka mereka pasti semakin nglenik”.

“Sek-sek, pendapatmu kok menarik maksude piye, wong semakin ilmiah semakin klenik kuwi piye logikane?” Tanya Sekretaris PWNU Jateng Gus Huda, keheranan.

“Ngeten, Gus, semakin manusia ilmiah, kiblatnya Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Seni (IPTEKS), pada akhirnya bergantung pada sesuatu yang metafisik. Sinyal, pulsa, internet, wifi, semua itu metafisik, tak tampak. Tapi itu diyakini betul sebagai puncak kemajuan manusia karena representasi produk teknologi kontemporer. Bukankah yang tak tampak itu erat dengan hal metafisik, gaib, tapi menjadi inti karena menggerakkan. Klenik, sama loh, Gus,” jawab saya yang sok nggaya ngilmiah.

Mau santet, tenung, sihir, atau suwuk, lanjut saya, semua ya metafisik. Tapi mengapa itu semua dianggap “ilmu hitam” dan hanya produk barat yang dianggap kemajuan paling dahsyat, ilmiah, dan peradaban kita seperti santet dianggap kafir syirik? Ini tentu propaganda peradaban.

Diskusi berlanjut. Meski mata berontak ingin terlelap, dan istri sudah WA geger minta saya pulang, tapi saya ndablek tetap diskusi. Kami bertahan tinggal bertiga sembari menikmati rintik hujan dan air kopi yang super dahsyat tendangan pahitnya.

Ilmiah atau Klenik?
Setelah nerjang hujan, saya sampai rumah. Paginya, diskusi saya lanjut dengan istri. “Generasi klenik itu generasi cerdas. Jare Bu Wardani (Kaprodi S2 Pendidikan Dasar), ethnoscience itu budaya turun-temurun. Klenik kan yo turun-temurun. Kebudayaan turun-temurun kui. Jadi tak mendadak ada. Tapi ada, dan keberadaannya diakui”. Demikian ulasan istri saya setelah Jumat melakukan sidang tesisnya yang mengangkat ethnoscience.

Apa yang diujarkan istri saya ini menandakan, peradaban klenik itu sudah lama. Klenik, diperkirakan ada sejak abad ke-4 masehi. Hal itu dikembangkan orang-orang purba, penganut animisme, dinamisme, hingga berkembang di kerajaan. Sebut saja Kutai Martadipura, kerajaan bercorak Hindu di Nusantara yang memiliki bukti sejarah tertua ini berdiri sekitar abad ke-4 yang sudah menerapkan peradaban klenik. Erat berkaitan pertanian, peternakan, hingga nasib dan jodoh.

Kemudian, teknologi klenik berkembang sampai abad 18, 19, bahkan masuk di ruang sosial politik. Ritual klenik ke dukun, mendatangi makam, menurut Gun Gun Heryanto, sudah terjadi sejak pemilihan umum pertama kali digelar di Indonesia tahun 1955. Dari kilas balik sejarah ini, klenik merupakan peradaban tua manusia Nusantara. Tinggal, kleniknya itu positif atau negatif.

Mengapa? Karena, pakem dan laku klenik ini di KBBI V diartikan negatif. Coba kita simak: “Klenik : kegiatan perdukunan (pengobatan dan sebagainya) dengan cara-cara yang sangat rahasia dan tidak masuk akal, tetapi dipercayai oleh banyak orang”. Ini sangat melukai spirit klenik yang didasarkan pada khadam suci, wasilah, wali, atau bahkan malaikat dan puncaknya Allah itu sendiri.

Sampai Islam datang dan oleh Walisongo, metode klenik itu dibungkus dengan cara-cara islami. Dan, hasilnya yang arahnya menuju kegaiban roh-roh jahat, diluruskan dengan metode Islam untuk menuju Allah yang tak tampak.

Jika sejak abad 4 masehi klenik sudah ada, laku hidup yang didasarkan pada metafisika, hal-hal mistik, gaib, lalu mengapa itu disebut tidak ilmiah? Padahal, internet yang diagung-agungkan sebagai produk IPTEKS yang super ilmiah, juga gaib. Siapa yang tahu wujudnya internet? Ra ono sih?  Kan podo karo klenik?

Padahal internet sendiri lahir dibentuk Departemen Pertahanan Amerika Serikat pada tahun 1969, melalui proyek lembaga ARPA yang mengembangkan jaringan yang dinamakan Advanced Research Project Agency Network (ARPANET). Mereka mendemonstrasikan bagaimana dengan hardware dan software komputer. Artinya, internet harus takzim pada klenik.

Keduanya sama-sama gaib, mistik, metafisik, tidak ada yang dapat melihat kecuali dengan “kunci” atau password. Mau klenik, sihir, internet, semua butuh kode dan password. Untuk masuk ke sana, kita harus mengawinkan imanensi dan transendensi, ada dan tiada, maka keduanya sama-sama ilmiah, rasional, logis, bahkan klenik tidak bisa dideteksi.

Coba saya tanya, teknologi apa yang bisa mengalahkan santet? Apakah santet bisa di-hack (retas)? Siapa yang bisa menjadi hacker santet? Golekono kono!

Jika internet, wifi, aplikasi, website bisa diretas, maka siapa yang dapat meretas klenik?

Teknologi dan Klenik itu Sedarah!
Pemuda yang sudah menstigma “klenik” sebagai hal buruk, bahkan kafir, menjadikan mereka berkiblat pada internet, gawai, yang konon muaranya pada logos, bukan mitos, dan produk IPTEKS. Coba kita analisis: internet, pulsa, wifi, sinyal, medsos, Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), big data, itu semua metafisik, gaib, dan itu kan wilayanya para roh.

Mengapa kok kaum saintifik dan pemuda-pemuda yang puber intelektual menganggap klenik itu pseudo ilmiah dan mitos? Padahal mereka sedarah!

Coba kita fair dengan data. Perilaku pemuda +62 yang berasal dari kamus netizen “negara +62” yang merujuk pada kode telepon yang digunakan Indonesia di dunia itu sumbernya metafisik. Mereka mudah terprovokasi berita hoaks, kagetan, mudah terprovokasi isu, tidak melek literasi, bahkan saya baca Tribun Jateng edisi 28 Oktober 2018 kemarin, halaman depan disuguhkan berita menarik.

Ya, banyak rumah sakit ‘mengeluh’ karena banyak anak-anak dan pemuda kecanduan gawai dan stres, sakit jiwa. Aneh kan? Laporan di koran itu, RSUP dr. Kariadi Semarang, RSJD dr. Amino Gondohutomo, RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang, RSJ Marzuki Mahdi Bogor, semunya melapor banyak anak dirujuk ke sana karena sakit jiwa lantaran gawai. Bahkan, RSJD dr. Arif Zainudin Surakarta, pada tahun ajaran 2019 ada 35 remaja berobat ke sana lantaran gawai. Edan!

Bukankah itu semua gara-gara gawai yang isinya internet, game online, wifi, semua itu gaib, metafisik. Masih tak menganggap internet itu klenik dan berbahaya?

Internet atau klenik, sama-sama berposisi sebagai alat, bukan tujuan. Pemuda kita yang didominasi generasi milenial dari usia Generasi Y (lahir di atas tahun 1980-1997), Generasi X (setelah usia generasi Y), Generasi Z (lahir 1995-2014), bahkan Generasi Alfa (lahir setelah 2010 dengan usia paling tua anak-anak usia 5 tahun) harusnya tak terlalu bersandar dan termakan bahaya internet, meski ada positif dan negatifnya.

Kita tentu berharap, generasi Alfa atau pascamilenial ini benar-benar ilmiah dan percaya klenik. Sebab, puncak dari klenik itu ilmiah, dan puncak ilmiah itu klenik. Generasi Alfa inilah menjadi “qaumun akhar”, karena “Alfa”, satu akar dengan “Alfatihah”, “Alfabet”, “Alfanumerik” dan kata atau idiom “Alfun”.

Alfatihah merupakan ummul kitab, surat pembuka dalam Alquran. Sementara alfa merupakan nama huruf pertama abjad Yunani, bisa berarti yang pertama, permulaan. Sedangkan alfabet adalah abjad. Makna dari alfanumerik sendiri berarti rangkaian aksara yang dapat terdiri atas huruf, angka, tanda baca, atau lambang Matematika.

Dari definisi dan analisis generasi ke generasi secara rumus konvensional-digital di atas, bisa dipetakan bahwa generasi milenial (Y), Pascamilenial (Z), dan Generasi Alfa, adalah mereka yang hidup dan duduk di bangku SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA dan mahasiswa.

Mereka merupakan generasi yang hidup dalam “benua maya” dan dalam lingkungan internet. Generasi Alfa sendiri dalam konteks ini, bisa dikatakan sebagai generasi wahid, pertama, awal, lalu pembaharu, pemula, pelopor, generasi pertama setelah generasi yang ada sebelumnya, qaumun akhar dan mendominasi kehidupan.  Saya kira, pemuda generasi +62 sama, ya sama-sama percaya 0 (kosong), kekosongan, moksa, internet, percaya klenik, karena klenik dan internet itu kosong, tiada (tak tampak indera).

Mereka adalah kaum baru, yang harusnya berkiblat pada mitos dan logos, pada klenik dan ilmiah/teknologi, jangan satu saja. Jika satu saja, sebut saja internet, nanti banyak anak-anak sakit jiwa dan masuk rumah sakit. Jangan pula logos saja, nanti jadi manusia kaku, puritan, dan kering spiritualnya. Lah, apa kondangnya, percaya IPTEKS tapi wedi ketemu setan, rak patut blas.

Jangan-jangan, ini jangan-jangan, internet dibuat untuk menandingi klenik, agar bangsa kita tak percaya lagi pada local knowledge (pengetahuan lokal), local genius (jenius lokal), dan local wisdom (kearifan lokal) Nusantara.

Peradaban Jawa atau Barat, sama-sama sudah menjawab tantangan Allah dalam Alquran surat Ar-rahman ayat 33, yang artinya “Hai jemaah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya, kecuali dengan سلطان (kekuatan/kekuasaan)”.

Ya, sultan di sini menurut beberapa mufasir posisinya di atas haul, dan quwwah (baca: laa hawla wa laa quwwata illa billah). Jika orang Barat menemukan internet (sultan) pada 1969, maka kita (manusia Nusantara) telah menemukan teknologi klenik sejak abad ke-4 masehi. Kata salata-sultan juga dijadikan sebagai nama raja dalam kerajaan Islam di Nusantara setelah Walisongo hadir. Sebut saja Sultan Agung, Sultan Trenggono, Sultan Fatah, Sultan Hadiwijaya, dan lainnya. Ini menandakan, peradaban Nusantara lebih dulu menjawab ‘tantangan’ Allah dalam surat Ar-rahman di atas, yaitu melalui klenik yang lebih kondang daripada internet.

Saya juga heran dan curiga, karena orang sekaliber Steve Jobs dan Bill Gates justru melarang anaknya memakai gawai. Jangan-jangan, jangan-jangan lo ya, anak-anak mereka justru diajari klenik? Padahal, internet itu produk barat, produknya mereka, la kok anak-anaknya dilarang menggunakan gawai? Kan wagu tenan!

Mengapa kita yang memiliki teknologi klenik yang lebih tua dari internet, dilarang, dan terprovokasi menganggap klenik itu mitos, dan diseru memakai teknologi, internet? Jika masih menganggap klenik itu sebagai mitos, katakan saja dengan tegas: mitos mbahmu kuwi!

Exit mobile version