NU dan Budaya ‘Tebasan’

Ilustrasi NU Online

Ilustrasi NU Online

Oleh Hamidulloh Ibda

“Wah, entuk tebasan maneh iki,” kelakar salah satu pengurus LP Ma’arif PWNU Jawa Tengah di WA Group beberapa waktu lalu, ihwal soal kinerja.

Ia mengomentari salah satu pengurus lain yang sering dijuluki ‘juru tebas’ karena sering mendapat kerjaan, ‘gawean’ atau ‘tebasan’ di Ma’arif. Bisa berupa penulisan dan penerbitan buku, pembuatan kaos, penyusunan modul, kurikulum, pembuatan kisi-kisi soal, kegiatan seremonial, atau program lain yang menjadi agenda LP Ma’arif.

Bagi kami (pengurus LP Ma’arif PWNU Jateng), ‘gojlok-menggojlok’ menjadi hal biasa. Maka ragam bahasa dan diksi yang dipilih kadang aneh, unik, bahkan nyelekit di hati jika hanya dipahami secara tekstual. Tujuannya, untuk mengakrabkan, mendukung, menyemangati, mengritik, memberi pandangan berbeda, bukan menghina. Dalam bahasa lain, saya menyebut itu sebagai alat untuk menuju “keseimbangan dan harmoni”.

Kembali pada tebasan, poin ini menjadi penting karena selama ini budaya kerja, budaya mutu, budaya maju sangat minim atau diabaikan di organisasi nonprofit seperti LP Ma’arif sebagai salah satu lembaga vital di tubuh NU. Diakui atau tidak, saya kira di lembaga lain pun sama, masih terjebak pada program atau kegiatan ‘formalistik-simbolis’ yang kadang jauh dari peningkatan mutu.

Rata-rata, kegiatan di ormas Islam selama ini seperti itu. Masih sekadar ritus dan euforia yang jauh dari isi. Sudah membuang-buang uang, tenaga, materi, tapi tetap saja diburu dan diutamakan. Aneh memang!

Di LP Ma’arif, ada pengurus yang aktif, pro aktif, super aktif, bahkan pasif dan seleksi alam lah yang menjawabnya. Artinya, ketika ada pengurus aktif, cekatan, ‘cak-cek’, mudengan, tak banyak ngeles dan ngeluh, diberi amanah selalu tuntas, maka ia pasti mendapat kerjaan di luar bidang, program, atau keahliannya. Itulah yang disebut mendapat ‘tebasan’. Kira-kira, menurut akal sehat Anda, tebasan di sini baik atau buruk?

Epistemologi ‘Tebasan’
Karena terlahir dari keluarga petani, saya tak asing dengan istilah tebasan. Ya, tebas-tebasan dalam kamus ‘wong tani’ merupakan sistem jual beli sebelum padi, ketela, jagung, tembakau, kopi, atau tananam lain dipetik, masak, atau dipanen secara menyeluruh. Menebas, berarti membeli buah atau tanaman secara menyeluruh sebelum buah atau tanaman itu dipetik. Kira-kira begitu maknanya.

Praktik ini biasanya dilakukan oleh penebas, tengkulak, pengepul, yang membeli buah atau tanaman milik petani. Kalau di Temanggung namanya ‘grader’ yang membeli atau menebas tembakau.

Namun, tebasan dalam organisasi jelas berbeda dengan dunia pertanian. Di dunia kerja seperti perkantoran, kampus, sekolah, substansinya hampir sama, yaitu mengerjakan semua kerjaan meski bukan tupoksinya.

Faktornya ada dua. Pertama, karena ia dianggap mampu dan tuntas mengerjakan kerjaan, maka ia diberi tebasan. Kedua, karena pengurus atau penanggungjawab program/kerjaan itu macet, stagnan, bahkan disorientasi (kehilangan arah) dan tidak bisa menjalankan tanggungjawabnya. Maka, harus ada pengurus atau orang yang ngalah, sehingga ia mendapat tebasan dari kerjaan atau program yang terbengkalai tersebut.

Tebasan, bagi saya bisa bermakna dua: positif dan negatif. Positifnya, kerjaan selesai dan tuntas. Negatifnya, pengurus yang diberi amanah dengan kinerjanya tak tuntas merasa aman karena kerjaannya diselesaikan penebas. Bahkan, bagi sebagian orang, budaya ini melahirkan sifat ‘manja’, ngandelke orang lain, cari aman, dan ‘pasrah bongkokan’ pada orang yang sering menerima tebasan itu. Sisi lain, tebasan bisa dikatakan sebagai ‘mental proyek’ yang hanya memburu recehan melalui organisasi, khususnya NU atau LP Ma’arif. Mental ini hanya ditinggalkan jauh-jauh. Sebab, sebanyak apapun proyek yang didapat di organisasi, akan tidak berkah ketika salah niat, arah dan tujuah.

Lantaran NU atau Ma’arif adalah lembaga nonprofit yang tidak menggaji pengurus, kadang pengurus yang macet dan kerjaannya diborong penebas menjadikan penebas jengkel. Meski di hatinya bilang ikhlas, tapi menurut Ketua LP Ma’arif PWNU Jateng, ikhlas itu berat dan masih banyak yang sekadar menjadi “pemanis bibir”.

Tapi bagi saya tak ada masalah. Hadirnya penebas menjadi solusi atas problem macetnya program atau pembuat program tersebut. Tebasan menjadi idiom solutif, baik secara paradigmatik maupun praktik. Sebab, di suatu lembaga yang pengurusnya macet dan tidak ada penebas, maka hancurlah lembaga tersebut. Tinggal menunggu waktu. Maka, penebas bagi saya adalah ‘pahlawan’.

Ma’arif adalah Keluarga
Spirit khidmah di NU maupun LP Ma’arif harus dikuatkan. Pemahaman mendasar, harusnya sampai pada tataran yang paling dekat dengan kita, yaitu paradigma rumah dan keluarga. Ya, bagi saya, Ma’arif adalah rumah dan orang-orangnya adalah keluargaku, dulurku, sahabatku, konco-koncoku kabeh.

Di LP Ma’arif PWNU Jateng, orang-orangnya memang aneh-aneh, unik-unik, lucu-lucu bahkan ‘edan-edan’. Namun, di balik semua itu, program kami alhamdulillah berjalan hampir satu tahun ini. Mulai dari urusan literasi, penerbitan, perbukuan, kurikulum, mutu, inklusif, IT, pendataan, pramuka, usaha, perkaderan, semuanya berjalan dengan dan tiadanya tebasan-tebasan tersebut meski bagi kami belum maksimal.

Maka, Pak Ketua LP Ma’arif PWNU Jateng sering menekankan, bahwa kinerja pengurus harus jelas dan berbasis kompetensi. Tak sekadar pasang nama, gagah-gagahan menjadi pengurus wilayah tapi sepi program, miskin kinerja, dan paceklik mutu.

Ketua LP Ma’arif PWNU Jateng tidak peduli latar belakang pengurus, yang penting bisa kerja bagus, berkualitas, dan benar-benar ada hasil terukur untuk mutu dan kemajuan LP Ma’arif se Jateng. Lebih spesial lagi, untuk madrasah dan sekolah se Jateng.

“Koyok kurikulum wae leh, Pak, kok berbasis kompetensi,” kata Pak Wakil Ketua LP Ma’arif PWNU Jateng beberapa waktu lalu yang merespon ungkapan Ketua di atas.

Saya kira, ungkapan ini ada benarnya. Kita di organisasi tak sekadar menambah CV, namun benar-benar khidmah untuk kemajuan NU dan LP Ma’arif. Aktif. Mau berbasis tebasan, pemain tunggal, atau ngelembur sampai pagi, itu semua tak lain untuk mencari rida Allah dan mengabdi pada warga NU.

Sebab, Hadratussyaikh Romo KH. Hasyim Asyari menekankan pentingnya ngrumati dan memajukan NU. “Siapa yang mau mengurusi NU, aku anggap sebagai santriku. Siapa yang jadi santriku, maka aku doakan husunul khatimah beserta keluarganya,” demikian kira-kira pesan Mbah Hasyim yang sudah diketahui banyak umat.

Dari pesan sakral ini, kita harus meluruskan niat, menata diri, menggandakan visi, bahwa khidmah di NU, di Ma’arif, itu penting karena kita meneruskan perjuangan organisasi yang didirikan para alim, ulama, kiai dan orang-orang yang jelas nasab keilmuwan dan agamanya. Mau guru, kepala madrasah, tukang kebun, TU, pengurus LP Ma’arif, harusnya mampu membaca budaya tebasan dalam berjuang atau berkinerja di NU, Ma’arif, Banom atau lembaga NU yang lain.

Artinya, NU dan LP Ma’arif bukan tempat kerja yang profit, melainkan sebagai tempat berkinerja, khidmah, memajukan mutu melalui keikhlasan hati dan berbasis kompetensi. Sekuat tenaga, pikiran, waktu dan kesempatan, harus diikhlaskan demi kemajuan dan mutu Ma’arif.

“Ah, ngomong gampang, ngelakoni angel,” kelakaran ini pasti muncul. Namun, setidaknya kita mulai dari diri sendiri, dari hal-hal sederhana dan istikamah. Saya, juga sering meminta kritik, masukan, dan bahkan mengritik diri sendiri.

Tebasan atau nontebasan, bagi saya itu soal metode khidmah. Poin pentingnya, jangan sampai program, agenda, atau kegiatan di Ma’arif itu mandek alias macet karena tidak ada kerjaan atau ‘tebasan’ yang jalan.

Orang yang menerima tebasan dengan ikhlas, bagi saya adalah pahlawan karena ia mau mengerjakan program di luar tupoksinya. Tapi jika berburu materi belaka, hancurlah dia. Jadi, penebas di sini bukan masalah kapital ekonomi karena mendapatkan materi dan ‘recehan’, melainkan bekerja dan ‘nembel’ programnya pengurus yang tak jalan. Sebab, mau mengerjakan kerjaan orang lain di luar tanggungjawabnya, itukan “sak apik-apike wong”. Benar nggak?

Dus, baik di NU, LP Ma’arif, Banom dan lembaga lain, siapkah kita menerima tebasan-tebasan tersebut dengan ikhlas atau hanya berburu recehan?

-Penulis adalah Pengurus Bidang Diklat dan Litbang LP Ma’arif PWNU Jawa Tengah.

Exit mobile version