PuisiSastra

Sajak-Sajak Muhammad Faizun

MENGHABISKAN PUNTUNG ROKOK

Ia memunguti bekas puntung rokok

yang terselip di antara rumput

dan mulut tamu yang datang dan pergi.

“Jangan sebatang,” katanya

sambil membenamkan tangis atau marah

di balik senyumnya.

“cukup sisa Anda,”katanya

Sementara rumput dan jemari tamu

yang hampir tersulut api puntung itu

bersyukur ada yang menampung

sebab hitung-hitung sedekah

sekalipun dari puntung.

Lalu ia selipkan di antara bibir

yang komat-kamit bukan dzikir

bukan umpat

dan bukan kata-kata yang membentuk kalimat berarti.

Tetapi wajahnya melampirkan perenungan yang maha tinggi.

“Aku akan habiskan puntung ini

sebelum habis,” katanya

menyanggah perasaanku

yang sedari tadi mengamati

suara yang keluar dari mulutnya

bersama asap

Ia menghabiskan puntung rokok

bersama api yang menjadikan puntung itu abu

dengan perumpamaan cinta sederhana Sapardi

Dengan kata yang tak sempat diucapkan

Puntung” kepada api

Yang menjadikannya abu.

Dan ia tersenyum telah menghabisi kemubadziran

mungkin dengan cinta yang sederhana.

Demak, 21 Agustus 2019

***

SKIZOFRENIA

Setiap hari ada saja yang berganti peranmenjadi dan dijadi,

silih berganti sampai tidak diketahui mana yang asli.

(1)

Seorang pemuda duduk bersila di sudut musola

berperan menjadi masa lalu

ia tak tahu harus mengarahkan langkah ke mana

sementara matanya menutup diri dari kenyataan

bersurup di dalam kamar imaji yang sulit dimasuki siapa pun

kecuali mata dan mulutnya yang saling berebut sendiri itu.

(2)

Seorang perempuan menertawakan tangisnya

Sebab teringat lagu yang paling indah baginya

“lagu apa yang paling indah mas?” tanyanya kepadaku

Yang mematung sebab bingung mau tertawa

Atau menangis atau diam saja.

Saya menggeleng senyum.

“Lagu yang paling indah adalah

suara yang keluar dari bayi mas,”

katanya menangisi tawanya.

Dan suaranya pecah seperti bayi yang tertawa

dan ibu yang menangis

(3)

Di balik bangsal bambu

Seorang lelaki setengah baya

Melukis kekasihnya dengan tai

Di dinding tembok.

Seperti artefak

Seperti lukisan cat akrilik

Dengan warna cokelat matang kehitaman.

Saya serta merta mengapresiasi

Dengan muntah dan bangga.

Wajah karikatur seorang perempuan

Dan coretan abstrak ditambah

Tulisan “NKRI HARGA MATI”

Di balik bangsa bambu itu

Lelaki setengah baya

Ingin merayakan kemerdekaannya

Dengan cara yang gila.

Dan saya yang bertugas kebersihan

Segera memandikan tubuh

dan lukisannya sambil misuh

seperti dia saat kambuh.

Demak, 21 Agustus 2019

SAJAK GILA TENTANG CINTA

Mencintai angin harus menjadi dingin

Mencintai api harus menjadi hangus

Mencintai gunung harus menjadi relung

Mencintai air harus menjadi keruh

Mencintai jalan harus menjadi aspal

Mencintai waktu harus menjadi lalu

Mencintai kopi harus menjadi gula

Mencintai-nya ia menjadi gila.

Demak, 22 Agustus 2019

SINEKDOK

Ia makan di tempat

Berak di tempat

Shalat di tempat

Menulis di tempat

Melukis di tempat

Tetapi ia berpikir di lain tempat

Demak, 22 Agustus 2019

KERAMAT

1

Kita terlahir dari sentuhan angin

dan hangatnya malam

Ketika langit ditempa do’a

Dan dua orang tua kita sedang tengadah

Memintal gemintang agar menjadi kita.

Itu adalah malam keramat.

Ketika cinta pertama kali ingin dibagi

Dengan bagian yang lebih

Antar lainnya.

Ketika malaikat merebut alih setan

Dalam peristiwa cinta yang melilit ikatan.

Laqad khalaqnal insana fi ahsani taqwim.

Tuhan menciptakan kita sebaik-baik bentuk.

sebaik-baik makhluk.

Dan kita sedang dirancang dalam sebuah rahim

Oleh para malaikat yang tidak berhenti bertasbih.

Sementara di luar, doa-doa silih menyala

Kalimat thoyyibahdan ayat-ayat suci dibaca

Oleh mereka yang ikut meniupkan ruh

Di otak kita yang masih sebiji kurma.

Menggema ruang-ruang langit,

Berbinar bintang-bintang malam.

Itu adalah malam keramat.

Ketika cinta dibagi dan digetuk tularkan,

menelurkan keikhlasan

Dan membuahkan berkat dan berkah

Yang dibawa pulang tamu undangan.

Kita menangis, melesat dari rahim

Jatuh ke pangkuan ibu,

Ke pangkuan malaikat yang menjaga kita

dari rengkuhan kebencian.

Itu adalah waktu keramat.

Ketika ibu, mengecup kening ketika

Dengan bibir yang dipenuhi air mata dan do’a

Rabbi habli minas shalihin”

Dan ayah menjaga kefitrahan agama kita

Dengan mengumandangkan adzan di telinga.

Mengenalkan Allah Tuhan kita

Dan Muhammad kekasih kita.

2

Di sebuah surau, kita diantar oleh ayah

Menyerahkan kepala kita agar diisi memori

Yang mengandung nilai pengetahuan

dan kesadaran mengenali diri.

Kita diserahkan kepada seorang guru

Yang dengan ikhlas menghapus kebodohan kita

Guru yang keringatnya menyerap dalam peci

Yang keringatnya dikalkulasi oleh Tuhan sendiri.

Dan ini adalah alur keramat.

Guru adalah malaikat yang menjaga kepala kita

Agar tidak salah menemukan wajah.

Di tangannya ada lentera yang menunjukkan

Kegelapan yang perlu dihabisi.

“Siapa yang menginginkan dunia,

Harus berilmu.

Siapa yang menginginkan akhirat,

Harus berilmu.”

Sekarang, kita telah hidup lebih lanjut

Orang tua melahirkan kita jadi manusia

Guru mengantarkan kita jadi manusia.

Meski terkadang kita justru senang jadi binatang.

Keramat.

Kita tumbuh bahagia bukan karena cerdas

Atau kerja keras semata.

Bisa jadi karena do’a orang tua di tengah malam

Dan keikhlasan guru di setiap wiridnya.

Mari tetap menjadi manusia yang manusia.

Demak, 2 November 2018

**

Tentang penulis:

-Muhammad Faizun, seorang Pekerja Sosial di bidang Rehabilitasi Narkoba dan Gangguan Jiwa di Rehabilitasi “Maunatul Mubarok”, Sayung Demak. Pernah menulis puisi di berbagai media dan antologi bersama dengan nama pena Faizy Mahmoed Haly. Dan kumpulan puisi tunggalnya bertajuk,“Catatan Hujan Tengah Malam” (2013).

Tinggalkan Balasan