ArtikelEsai

Narsisme Guru Selfie (2)

Oleh Hamidulloh Ibda

Pekan lalu, tulisan saya bertajuk Narsisme Guru Selfie (1) yang dimuat di rubrik ini saya jadikan status di WhatsApp, ternyata banyak direspon beberapa kawan, sahabat dan rekan dari berbagai elemen. Pertama, dari teman guru Ma’arif. Ia berkomentar “Jadi merenung”. Saya yakin, sebagai guru, beliau ini sadar, meski belum tahu harus berbuat apa karena narsisme lewat aktivitas selfie tak bisa dihindari.

Kedua, dari sahabat dosen. Ia mengomentari agak panjang. “Bahasamu terlalu menohok, Kang. Roto-roto kabeh guru bahkan kabeh wong isane sak iki ya dadi juru foto. Padahal ora dibayar. Selain medsosan, WA-nan, HP mung kanggo foto-foto. Nek awakmu bisa mengubah kondisi itu, ya tak dukung,” katanya.

Ketiga, dari teman LP Ma’arif PWNU Jawa Tengah. “Masalah simpel kayak gitu bisa jadi tulisan ya, Mas. Tapi itu kritik pedas, karena posisi guru kalau bisa di lingkup pendidikan harus menjadi contoh, nggak cuma selfa-selfie,” tandasnya.

Keempat, komentar santai yang paling saya suka dari teman wartawan. “Hahahahaha”. Ia tertawa lepas, karena diam-diam ternyata membaca ketikan saya sampai tuntas.

Komentar terakhir ini yang lucu, tanpa mikir, tapi justru menjadi tanda tanya. Apakah karena paham, sadar, ngece, atau terkritik karena menjadi pelaku? Entahlah!

Yang jelas, ia tertawa lepas karena tulisan jelek yang saya bagikan tersebut menjadi refleksi narsisme berlebihan lewat selfie yang dilakukan guru- guru saat ini. Setidaknya, dari tawa lepasnya itu membuat saya agak bahagia, karena membuat orang tertawa menjadi bagian dari sedekah.

Narsisme: Kesehatan atau Penyakit?

Dari sekian banyak komentar, hal itu bagi saya tetap menjadi kritik dan masukan pada diri sendiri. Narsisme sebagai bagian dari sindrom “nggaya” dalam kehidupan, tidak dapat dihindari atau dibungkus rapat dan disimpan di almari atau celengan.

Tapi, apa hakikat narsisme? KBBI V 2019 menyebut narsis-narsistik sebagai kepedulian secara berlebihan pada diri sendiri yang ditandai dengan adanya sikap arogan, percaya diri, dan egois. Jelas, di sini ada hal positif dan negatifnya.

Selain Bahasa Indonesia, narsisme berasal dari beberapa bahasa. Mulai dari Bahasa Inggris “narsisisme”, Bahasa Belanda ”narsisme” yang berarti sikap atau perasaan cinta pada diri sendiri secara berlebihan.

Ann M. King, dkk (2010) dalam karya Abnormal Psychology, 11th Edition, menyebut orang yang mengalami gejala atau sindrom narsisme disebut narsisis (narcissist). Istilah ini pertama kali digunakan dalam psikologi oleh Sigmund Freud yang mengambil dari tokoh di dalam mitos Yunani, yaitu Narkissos. Sedangkan versi Bahasa Latinnya yaitu “Narcissus”.

Narkissos ini dalam mitologi Yunani adalah orang terkutuk. Ia disimbolkan atau dikisahkan dikutuk, sehingga ia mencintai bayangannya sendiri di kolam. Dalam mitos ini, narsisis sangat terpengaruh dengan rasa cinta akan dirinya sendiri dan tanpa sengaja menjulurkan tangannya hingga tenggelam. Kemudian, tumbuhlah sebuah bunga yang sampai sekarang disebut bunga ”narsis”.

Narsisme atau narsisisme selalu muncul dan tenggelam, karena semua manusia dalam konsepnya Sigmund Freud (1914) pada On Narcissism: An Introduction, dijelaskan sifat narsis dimiliki manusia sejak lahir. Artinya, narsisme menurut Mbah Freud adalah “gawan bayi” dan tidak dapat dihindari. Mau guru, tukang ojek, kiai, pengurus LP Ma’arif NU sekalipun, menurut Freud, mereka semua memiliki narsisme.

Namun, narsisme tetaplah narsisme. Ia hanya alat, bukan tujuan. Sebab, narsisme jika dibiarkan dan tidak dikelola dengan baik, akan menyeret manusia kepada kegilaan. Narsisme membawa “cacat bawaan” sifat berlebihan mencintai diri sendiri. Aneh tidak?

Aneh atau tidak, narsisme bagi saya bagai dua keping mata uang, ada positivitasnya, ada negativitasnya. Ia yin-yang, ac-dc, plus-minus. Maka, saya membagi narsisme ke dua valensi, ada narsisme destruktif dan narsisme produktif.

Narsisme Destruktif dan Produktif

Isme, pada diri manusia termanifestasi ke dalam berbagai hal. Salah satunya narsisme, yang diibaratkan sebagai kecenderungan mencintai diri sendiri secara berlebihan, yang salah satunya terwujud dalam aktivitas selfie. Saya membaginya ke dalam dua varian, yaitu narsisme yang merusak alias destruktif, dan narsisme yang baik alias narsisme produktif.

Narsisme destruktif di sini dapat saya katakan sebagai bagian dari penyakit jiwa. Artinya, tidak semua narsisme itu buruk. Guru di LP Ma’arif harusnya menjauhi karakter ini karena dalam beberapa teori, narsisme ini memiliki ciri pada orang yang mendera kepribadian patologis, mereka terkena sindrom Narcissistic Personality Disorder (NPD).

Secara sederhana, mereka dapat dikatakan “kehilangan arah” dalam hidup karena terlalu mencintai diri sendiri dengan berlebihan. Sangat berbahaya jika tidak dihentikan. Maka, para guru dan siapa saja, harusnya bergeser kepada narsisme yang produktif.

Mengapa? Karena setiap manusia sesuai konsep di atas memiliki bekal narsisme, harusnya diimplementasikan, atau ditransformasi ke dalam kegiatan produktif, aktif, baik, menuju perubahan, dan menciptakan kecerdasan bagi siswa-siswi atau umumnya di dunia pendidikan.

Narsisme produktif menjadi lawan dari narsisme destruktif. Kita dapat belajar dari Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari (1875-1947), ulama besar pendiri Nahdlatul Ulama (NU) yang memiliki karya tentang guru dan pendidikan. Dalam kitab Adab al-Alim wa al-Muta’allim fi Ma Yahtaju ilaihi al-Muta’allim, Mbah Hasyim mengajarkan adab, etika, atau petunjuk bagi guru untuk menjalankan pekerjaannya sebagai pendidik maupun pembelajar.

Dalam kitab itu, Mbah Hasyim menulis delapan bab yang dapat dijadikan pedoman bagi guru ketika ingin menggerakkan narsisme produktif. Pertama, bab yang menerangkan keutamaan ilmu, ahli ilmu, keutamaan mempelajari dan mengajarkannya. Kedua, bab menerangkan etika seorang penuntut ilmu atas dirinya sendiri. Ketiga, bab menerangkan etika seorang penuntut ilmu atas guru-gurunya.

Keempat, bab yang menerangkan etika seorang penuntut ilmu atas pelajarannya. Kelima, bab  menerangkan etika seorang pengajar atas dirinya sendiri. Keenam, bab yang menerangkan etika seorang pengajar atas pelajaran yang diampunya. Ketujuh, bab menerangkan etika seorang pengajar atas murid-murid yang diajarnya. Kedelapan, bab menerangkan etika penuntut ilmu dan pengajar ilmu terhadap kitab sebagai sarana belajar mengajar, sekaligus etika menyalin dan mengarang kitab.

Setiap bab, Mbah Hasyim mengajarkan berbagai pesan yang bernas dan laik dijadikan guru dalam menjalankan tugasnya di sekolah, bahkan di dalam keluarga maupun masyarakat. Saya sendiri, dari konsepnya Mbah Hasyim ini membagi narsisme produktif ke dalam beberapa hal. Mulai dari melakukan semua aktivitas keguruan, kependidikan, dan lainnya yang mendukung peningkatan kualitas, karakter, maupun literasi di madrasah atau sekolah di Ma’arif.

Guru perlu membangun cara-cara baru dalam membentuk karakter percaya diri, hakikat diri, harga diri, dan kualitas diri sebagai manifestasi “narsisme produktif” yang saya maksud di sini. Mau memakai pendekatan apa saja, ketika narsisme produktif ini dimaknai sebagai jalan untuk memajukan madrasah Ma’arif, saya yakin guru-guru tidak lagi terlalu lebay dalam menjalankan tugas sucinya.

Sekali lagi, narsisme bukan hal buruk. Ia hanya sindrom, sifat, karakter, tindakan, hanya alat untuk mencapai tujuan hakikat hidup, salah satunya mengubah cara berpikir dan perilaku diri sendiri dan peserta didik. Jika sudah membaca tulisan ini, namun guru-guru masih melakukan narsisme destruktif, maka sama saja mereka sepuluh langkah menuju kemunduran.

Namun jika minimal berubah cara berpikirnya, maka tulisan ini benar benar membawa dampak produktif. Sebab, kebanyakan guru-guru saat ini kurang membaca sampai tuntas, sehingga mereka lemah dalam hal literasi lama. Untuk mengubahnya, minimal kita menguatkan literasi lama maupun literasi baru dengan bekal “narsisme produktif” untuk memajukan madrasah Ma’arif di mana saja berada.

Dus, seberapa banyak guru-guru yang melakukan atau mengimplementasikan narsisme produktif? Atau, mereka hanya terlena dengan teknologi, dimanjakan dengan gawai dan dunia medsos? Atau, guru-guru memang tetap memegang teguh narsisme destruktif? Saya optimis, dengan memahami narsisme produktif, mereka akan sadar untuk istikamah memajukan pendidikan melalui kegiatan atau gerakan produktif.

Jika tidak mampu menjalankan narsisme produktif, minimal mereka “produktif” untuk narsis. Jika tidak narsis, maka mereka wajib produktif. Jika tidak narsis, tidak pula produktif, terus mau bagaimana? Atau, memang tidak mau narsis, tidak mau produktif? Duh!

(Bagian akhir)

-Penulis adalah dosen dan Ketua Program Studi PGMI STAINU Temanggung.

Tinggalkan Balasan