ArtikelOpini

Meluruskan Arah dalam Menghafal Alquran

Oleh Abdul Aziz, M. Pd.

“Yang hafal Alquran dengan baik itu hebat tetapi yang lebih hebat adalah yang berakhlak Alquran  dengan baik.” Demikian kata KH. Dr. Ali Nurdin, M.A., saat memberi nasihat kepada saya dan santri-santri lainnya di beberapa kesempatan. Ini menunjukan bahwa akhlak itu yang utama dari segalanya. Bahkan Nabi Muhammad Saw diutus untuk menyempurnakan akhlak.

Beberapa penelitian menunjukan bahwa kecerdasan kognitif akademis yang diajarkan di sekolah dengan porsi hampir 80 persen ternyata hanya memberi sumbangan tidak lebih dari 20 persen bagi keberhasilan kehidupan seseorang. Sedangkan 80 persen lagi ditentukan oleh sikap atau akhlak (Nurdin. 2018:72).

Menghafal adalah wasilah/cara sedangkan berakhlak Alquran adalah ghayah/tujuan. Menjadi penghafal Aquran semestinya bukan tujuan utama, tetapi itu adalah wasilah atau cara agar seseorang dapat berakhlak Alquran.

Menghafal Alquran bukan perkara mudah, butuh ketekunan dan keikhlasan dalam menghafal ayat demi ayat, surat demi surat hingga selesai 30 juz, namun demikian tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa menghafal Alquran itu susah. Faktanya banyak sekali hafiz maupun hafizah di sekeliling kita yang mampu menyelesaikan hafalan Alquran 30 juz.

Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa banyak ulama yang telah selesai menghafalkan Alquran sejak usia dini. Sebagai contoh, Imam Syafi’i, Imam Ath Thabari, Imam Nawawi, Imam Ahmad ibn Hanbal dan masih banyak lagi yang lainya, mereka hafal Alquran sebelum usia 8 tahun. Para imam tersebut bisa kita jadikan contoh bagaimana mengenalkan dan menumbuhkan kecintaan terhadap Alquran kepada anak-anak kita yaitu dengan cara menghafalnya.

Setiap masa mempunyai tantangannya tersendiri, pada masa lalu orangtua kekurangan biaya dan akses informasi sangat terbatas. Sekarang, jauh berbeda dari masa lalu dimana pendidikan gratis, akses informasi sangat mudah dan alat komunikasi semakin canggih namun tantangannya juga makin berat. Anak-anak terbuai oleh gawai dan lainya. Inilah yang harus kita waspadai dan kita carikan solusi

Dalam suasana kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini, masalah hakikat manusia dan kehidupan semakin santer dibahas. Urgensi pembahasan ini lebih terasa lagi setelah disadari bahwa ilmu pengetahuaan dan teknologi belum dapat menjamin kebahagiaan manusia selama nilai-nilainya tidak tunduk di bawah nilai-nilai spiritual.

Menghafal sebagai Benteng

Keresahan orangtua terhadap perkembangan spiritual anaknya ditambah banyaknya progam-progam TV yang mengangkat tema “Hafidz” disinyalir sebagai faktor yang menjadikan tahfiz sebagai pilihan utama untuk membentengi anak dari gerusan globalisasi. Maka dari itu tidak heran apabila baru-baru ini banyak sekolah formal yang mulai menerapkan tahfiz sebagai kegiatan ekstrakurikuler bahkan ada yang dijadikan sebagai muatan lokal (mulok). Bagaimanapun juga hal ini perlu disyukuri, dalam artian tahfiz sudah mulai familiar di masyarakat khususnya masyarakat perkotaan.

Sekolah-sekolah yang menerapkan tahfiz perlu diapresiasi namun perlu diingat jangan sampai tahfiz cuma sebagai branding dan mencari popularitas sekolah semata, agar sekolah tersebut diminati. Perlu diingat bahwa tahfiz bukan untuk branding atau popularitas semata melainkan demi membentengi dan mencetak generasi qurani.

Alquran memperkenalkan dirinya sebagai hudan li al-nas (petunjuk untuk seluruh manusia) inilah fungsi utama kehadirannya. Alquran tidak hanya diturunkan untuk umat Islam semata melainkan seluruh manusia ciptaan Allah Swt untuk keluar dari sisi keburukan dalam diri manusia menuju sisi kebaikan, Alquran juga dapat menjadi benteng dan pedoman dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan spiritual.

Tantangan dan Harapan

Tidak bisa dimungkiri bahwa setiap jalan menuju kebaikan pasti banyak tantangan dan godaan yang selalu mendera, begitupun dengan menghafal Alquran. Tantangan atau godaan yang sering menghantui para penghafal Alquran biasanya meliputi tiga hal yaitu wanita, ekonomi dan rasa malas.

Selain tiga hal tersebut, sikap sabar juga harus dimiliki oleh orang yang sedang menghafal karena menghafal Alquran tidak bisa instan bimsalabim langsung hafal, butuh proses yang panjang demi selesainya hafalan Alquran, meskipun ada beberapa orang yang hafal dalam waktu singkat dan kuat hafalannya.

Ada beberapa kiat yang dapat dilakukan oleh orang yang ingin atau sedang menghafalkan Alquran. Pertama, ikhlaskan niat karena Allah. Keduakuatkan dulu pondasi bacaan kita baik dari segi tajwid, makhraj, tahsin dan ilmu-ilmu yang terkait dengan Alquran. Ketiga, mencari teman/partner yang siap untuk diajak murojaah bareng. Keempatmenentukan waktu yang pas untuk membuat hafalan dan murojaah, Kelima, istikamah terhadap apa yang sudah kita laksanakan.

Dengan memperhatikan tantangan dan kiat-kiat tersebut diharapkan banyak banyak  para penghafal Alquran yang berhasil menyelesaikan hafalannya, karena tidak semua yang menghafal Alquran berhasil menyelesaikan hafalanya, ada yang terhenti di tengah jalan dan bahkan ada yang terhenti di akhir-akhir menuju khatam, maka dari itu tidak heran kalau teman saya waktu di pesantren bilang “iso katam setor (bilgoib)  wae wes alhamdulilah” meski belum mutqin hafalannya.

Di era milenial seperti sekarang ini kita butuh generasi penerus seperti para penghafal Alquran ini. Tentunya tidak hanya sekadar hafal, namun juga mampu mengamalkan apa yang terkadung di dalamnya. Oleh karena itu generasi ini diharapkan mampu membawa perubahan dan kemajuan bagi agama, nusa dan bangsa. Semoga!

-Penulis adalah hafizul quran, lulusan Pascasarjana PTIQ Jakarta

Comments (1)

  1. Masya Allah Fatabarokalloh terus berkarya dan belajar sepanjang hayat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: