ArtikelOpini

Satu Suro: Pertemuan Kultur Spiritualitas

Oleh  Abdul Halim

Tak lama lagi kita akan berjumpa dengan Satu Suro atau Muharam. Satu suro merupakan pertemuan kultur spiritual dua entitas; Islam dan Jawa. Bulan Suro adalah bulan pertama dalam kalender Jawa. Demikian pula dengan Muharam yang merupakan bulan pertama dalam kalender Islam (Hijriyah). Satu Suro dan satu Muharam sama-sama diperingati sebagai tahun baru, baik  dalam kalender Islam maupun Jawa.

Satu Suro merupakan hari pertama dalam kalender Jawa di bulan Suro yang juga bertepatan dengan satu Muharram dalam kalender hijriyah (Islam). Kalender Jawa diterbitkan pada masa Sultan Agung dengan mengacu pada penanggalan Hijriyah (Islam). Dalam literatur sejarah Mataram, pada saat Sultan Agung menjadi raja, ia memadukan sistem penanggalan Islam dengan sistem penanggalan Hindu, dan adanya sedikit pengaruh penanggalan Julian dari Barat.

Sultan Agung yang ketika itu menanamkan Islam, mengeluarkan sebuah dekrit yang mengganti penanggalan Saka yang berbasis putaran matahari dengan kalender Qamariah yang berbasis putaran bulan. Hasilnya, setiap angka tahun Jawa diteruskan dan berkesinambungan dengan tahun Saka.

Sampai saat ini, sistem penanggalan Jawa masih digunakan oleh banyak kalangan. Baik itu untuk menentukan acara, pernikahan maupun menentukan hari baik untuk kepentingan tertentu. Meski penanggalan Satu Suro mengacu pada penanggalan Hijriyah, namun ada keunikan sendiri dalam menyikapi/memperlakukannya.

Malam Satu Suro

Malam satu Suro sangat lekat dengan budaya Jawa. Satu suro dalam pandangan masyarakat Jawa dianggap memiliki makna sakral atau mistis dibanding dengan hari-hari biasa. Misalkan di beberapa keraton Jawa seperti keraton Jogjakarta, Surakarta, Kesepuhan Cirebon dan sebagainya. Di sana memiliki tradisi masing-masing untuk memperingatinya. Biasanya dilakukan iring-iringan rombongan masyarakat atau yang biasa kita sebut kirab menjadi salah satu hal yang bisa kita lihat dalam ritual tradisi ini.

Di Kraton Jogjakarta terdapat Ritual lampah budaya topo bisu mubeng beteng keraton Yogyakarta. Dalam tradisi ini selama mengikuti ritual topo bisu warga dilarang berbicara. Dalam perjalanan mubeng benteng (mengitari beteng keraton) sekitar 5 kilometer, warga membaca doa-doa sesuai yang diinginkan. Topo bisu mubeng beteng adalah laku untuk instropeksi  mana yang sudah dilaksanakan atau belum mana yang baik mana yang tidak. Intinya untuk instrospeksi diri dan meminta petunjuk dari Allah SWT agar ke depan lebih baik.

Di Solo, Keraton Kasunanan Surakarta menggelar tradisi Kirab Kebo Bule keturunan Kiai Slamet. Dalam kirab tersebaut kerbau menjadi cucuk lampah memimpin barisan terdepan kirab pusaka mengelilingi kota. Selain itu ada keunikan lain yaitu bahwa  telethong (kotoran kerbau) binatang bule Keraton Solo itu juga didambakan masyarakat. Kepercayaan terhadap kotoran Kiai Slamet menyiratkan makna akan tradisi agraria Kerajaan Mataram.

Binatang kerbau sebagai penarik bajak dan kotorannya sekaligus sebagai pupuk dan pusaka-pusaka yang dikirabkan antara lain berupa peralatan pertanian, itu menunjukkan bahwa tradisi ini merupakan simbol harapan harapan masyarakat agraris agar diberi kemakmuran dalam bertani di tahun mendatang. Harapan dalam bentuk simbul dan doa yang dikemas dalam berbagai bentuk tradisi.

Spiritualitas Islam

Bulan suro diambil dari kata asyura yang artinya sepuluh. Maksudnya adalah hari kesepuluh pada bulan Muharam yang memiliki berbagai keistimewaan. Istilah asyura kemudian diadopsi menjadi nama bulan yakni suro dalam kalender Jawa. Pengambilan nama “Suro” tentu merujuk pada kemuliaan dan keistimewaan hari kesepuluh dalam bulan Muharram, mengingat nama semua bulan dalam kalender Jawa tak lepas dari keistimewaanya.

Satu Suro merupakan hari pertama yang menunjukan tahun baru dalam penanggalan Jawa dan juga bertepatan dengan 1 Muharam dalam kalender Hijriyah. Satu Muharam memiliki keistimewaan bagi umat Islam. Bagi umat Islam setiap akhir dan awal tahun dianjurkan untuk membaca doa akhir tahun dan awal tahun sebagai wujud kepasrahan dan harapan ke depan.

Di samping itu, 1 Muharam sebagai momentum instropeksi diri atas apa yang telah dilakukan pada satu tahun ke belakang. Bulan Muharam adalah salah satu bulan yang dimuliakan Allah di samping Dzulqo’da, Dzulhijjah dan Rajab, sehingga umat Islam disunnahkan untuk memperbanyak puasa baik pada tanggal sepuluh maupun tanggal yang lain dan amal ibadah lainnya.

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa yang paling utama setelah puasa bulan ramadhan adalah puasa pada bulan Allah yang kalian sebut bulan muharam, dan sholat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam.“ (HR.Muslim).

Pada malam tanggal 1 Muharam umat Islam merayakan sebagai malam pergantian tahun. Kemudian, oleh sebagian besar muslim merayakanya dengan memperbanyak membaca doa-doa serta amaliyah terpuji yang lain. Pada waktu yang sama masyarakat Jawa melakukan berbagai ritual sakral yang sejatinya merupakan wujud rekfleksi diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik ke depannya dengan disertai harapan akan berkah dari Sang Pencipta.

Pada momentum ini, baik tradisi satu suro dalam tradisi Jawa dan peringatan 1 Muharam. Dalam tradisi Islam ini terdapat pertemuan spiritual yang sama, yakni bentuk permohonan berkah dan bakti kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. (hi).

-Penulis adalah Pengurus Lembaga Pendidikan Ma’arif PWNU Jawa Tengah.

Tinggalkan Balasan