ArtikelOpini

Diplomasi Religius untuk Perdamaian Papua

Oleh Abdul Halim

Kisruh polemik isu SARA di Papua urgen diselesaikan melalui diplomasi religius. Bangsa Indonesia saat ini sedang diuji keutuhannya. Makian panggilan binatang oleh oknum saat mengepung asrama mahasiswa Papua di Surabaya menjadi pemantik meletusnya emosi ketersinggungan warga Papua. Viral video berisi makian memicu kemarahan warga Papua di sejumlah kota pada Senin (19/8/2019).

Aksi protes berujung kerusuhan pecah di Manokwari, Jayapura, Sorong, bahkan meluas ke Makassar. Mereka memprotes aksi rasial yang dianggap menghina warga Papua.  Peristiwa ini terjadi pada saat di seantero bangsa Indonesia sedang memperingati hari kemerdekaan Indonesia yang ke 74 yang menurut usia manusia sudah menunjukkan usia kedewasaanya. Sangat disesalkan peristiwa rasial tersebut terjadi. Namun apa dikata peristiwa sudah kadung terjadi dan ini merupakan ujian kedewasaan bangsa ini dalam menjaga keutuhannya.

Pada saat situasi  seperti ini butuh penanganan dan sentuhan tepat dalam meredam emosi masyarakat Papua yang sedang bergejolak. Upaya-upaya cepat untuk merangkul warga Papua dan seluruh komponen bangsa harus segera dilakukan agar benang-benang persatuan dapat erat kembali. Misalkan beberapa hal yang dilakukan oleh kalangan Nahdliyin seperti yang dilakukan Zannuba Ariffah Chafsoh atau yang akrab disapa Yenny Wahid melakukan ziarah ke makam ayahnya bersama sejumlah mahasiswa Papua yang ada di Jombang, Jawa Timur (NU Online, 21/8/2019).

Hal ini dilakukan mengingat Gus Dur adalah tokoh yang memiliki kedekatan dengan warga Papua. Yenny Wahid berpendapat menziarahi makam ayahnya bersama para mahasiswa asal Papua, tak lepas dari situasi terkini yang terjadi di Papua. Dia berharap, kebersamaannya dengan mahasiswa asal Papua di Jatim saat menziarahi makam Gus Dur, bisa membangkitkan ingatan masyarakat khususnya warga Papua terhadap sosok Gus Dur. Ia sengaja mengajak teman-teman dari Papua yang ada di Jawa Timur. Ini untuk mengirimkan dan menyampaikan pesan kepada masyarakat, terutama warga Papua di tanah Papua, bahwa di tanah Jawa dulu ada tokoh yang begitu dekat dengan warga Papua yang namanya Gus Dur (Kompas.com/ 21/8/2019).

Dalam sejarah, dicatat bahwa Gus Dur lah yang mengizinkan kembali masyarakat Papua memanggil diri mereka dengan nama kebanggaannya ‘Papua’. Gus Dur punya banyak memori saat memimpin Indonesia bersama warga Papua.  Kegiatan ini dilakukan agar pesan rasa persaudaraan dan perhatian Gus Dur terhadap warga Papua tergugah kembali dan mereka merasa didekati dan diayomi.

Meneladani Upaya Gus Dur Merangkul Papua

Pada prinsipnya persoalan Papua bukan sekadar kepentingan ekonomi atau sumber daya alam yang dimilikinya sebagai sumber konflik. Lebih dari pada itu adalah persoalan harkat dan martabat Papua. Maka tidak heran jika mereka akan marah besar dalam kasus sekarang ini ketika mereka dicaci dengan cacian nama binatang.

Menelisik kebelakang apa yang dilakukan Gus Dur saat merangkul Papua yakni dialog tentang alasan Gus Dur mengganti nama Irian Jaya menjadi Papua. Alasanya, pertama menurutnya nama Irian itu jelek. Kata itu berasal dari bahasa Arab yang artinya telanjang (Urryan). Menurut Gus Dur, dulu ketika orang-orang Arab datang ke pulau ini menemukan masyarakatnya masih telanjang, sehingga disebut Irian.

Perubahan nama Irian jadi Papua menjadi salah satu cara Gus Dur mengembalikan harkat martabat masyarakat Papua sebagai sesama warga bangsa Indonesia. Disamping itu Gus Dur adalah presiden pertama yang mengangkat menteri dari Papua, yaitu Manuel Kaisiepo, serta memberikan perhatian khusus bagi kawasan Indonesia Timur. Itu artinya bahwa pembangunan ekonomi tanpa penguatan orang Papua, orang Papua hanya akan jadi penonton. Di situ konflik akan lebih besar karena lagi-lagi martabat mereka direndahkan.

Oleh karena itu meski pemerintah saat ini telah memperbaiki sejumlah fasilitas dasar, mulai dari jalan, pos kesehatan, sekolah, pasar, sarana listrik di daerah terpencil, hingga penerapan kebijakan satu harga untuk BBM dan semen perlu adanya upaya pendekatan humanis dan pembangunan yang mengarah pada pengangkatan harkat dan martabat warga Papua.

Pemerintah juga harus memikirkan cara membangun kapasitas orang Papua dengan mendirikan lebih banyak lembaga pendidikan dan sarana kesehatan. Untuk itu sudah saatnya arah pembangunan Papua bukan hanya dilihat dari sisi ekonomi, akan tetapi pembangunan yang mengarah harkat dan martabat. Sudah saatnya fajar menyingsing di tanah Papua yang damai, dan rakyatnya dapat dengan bangga mengatakan “Aku Papua”.

Patut diingat mengenai ungkapan warga Papua sebagaimana di tulis B Josie Susilo Hardianto yang dimuat Kompas.com pada 4 Januari 2010, orang Papua bersedih saat Gus Dur meninggal.

Berikut tulisan B Josie Susilo Hardiant: 

Anton Sumer tercenung di depan televisi.

Pemberitaan tentang wafatnya mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid menyita seluruh perhatiannya.

”Ai, aduh. Kami, orang Papua, layak bersedih. Beliau bapak kami orang Papua. Beliau pula yang mengembalikan lagi nama Papua,” kata Anton sambil memegang kepalanya.

Dulu, semasa Orde Baru, tabu jika orang Papua menyebut diri mereka sebagai orang Papua.

Namun, oleh Gus Dur tembok-tembok ketakutan itu diruntuhkan.

Dulu Papua disebut dengan Irian, demikian juga dengan penduduknya, orang Irian.

Dulu, meskipun secara politis mereka segan menyebut diri mereka dengan Papua karena takut diidentikkan dengan Organisasi Papua Merdeka, jauh di dalam hati mereka adalah orang Papua.

”Karena Gus Dur, kami tidak takut-takut lagi menyebut diri kami orang Papua, dan kami bangga dengan itu,” kata Yehezkiel Belaw, seorang pemuda asli Paniai

Dari kutipan diatas, apa yang dilakukan oleh putri Gusdur, Yenny Wahid dengan mengajak mahasiswa Papua berziarah ke makam Gus Dur adalah sebuah upaya cerdas dengan diplomasi religius untuk Papua.

Kita perlu simak syair besutan Franky Sahilatua. Tanah Papua tanah yang kaya//surga kecil jatuh ke bumi//Seluas tanah sebanyak madu//adalah harta harapan. Tanah Papua tanah leluhur//di sana aku lahir//Bersama angin bersama daun aku dibesarkan. Hitam kulit, keriting rambut, aku Papua//Hitam kulit, keriting rambut, aku Papua//Biar nanti langit terbelah, aku Papua.

Semoga, Papua tetap damai karena bagian dari Indonesia. Kita berharap, kasus di Papua segera selesai agar Indonesia tetap aman dan tidak terusik oleh pihak tak bertanggungjawab.

Penulis adalah Ketua Tim Perumusuan Kurikulum Aswaja Annahdliyah LP Ma’arif PWNU Jawa Tengah.

Tinggalkan Balasan