Fri. Aug 23rd, 2019

LPM PWNU Jateng

Lembaga Pendidikan Ma'arif Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah

Buku dan Upaya Memajukan Bangsa

3 min read

Ilustrasi

Oleh Imam Syafi’i Zahri

“Aku menyelam sama sekali ke dalam dunia kebatinan ini. Dan disana aku bertemu orang-orang besar. Buah pikiran mereka adalah buah pikiranku. Cita-cita mereka adalah pendirian dasarku. Secara mental aku berbicara dengan Thomas Jefferson. Aku merasa dekat dan bersahabat dengan dia, karena dia berceritera kepadaku tentang Declaration of Independence yang ditulisnya di tahun 1776. Aku memperbincangkan persoalan George Washington dengan dia……”

Kutipan di atas adalah tulisan Bung Karno dalam “Penyambung Lidah Rakyat”. Kutipan tersebut mengesankan bahwa Bung Karno membayangkan Dia tengah berbicara langsung dengan tokoh-tokoh besar untuk memperbincangkan peristiwa-peristiwa besar masa lampau. Begitulah cara Bung Karno berimajinasi, seolah-olah ia merasakan langsung dan ikut terlibat dalam tulisan-tulisan yang dibacanya.

Di dunia ini hampir tidak ada orang besar yang lahir dan berkembang tanpa bersama buku. Bung Karno, Bung Hatta, Tjokroaminoto, Natsir, Tan Malaka, Wahid Hasyim, Gus Dur, Napoleon Bonaparte, John F.  Kennedy, Einstein, hingga Bill Gates adalah barisan tokoh yang mendapatkan pengetahuan besarnya dari membaca. Mereka adalah kutu buku kelas berat. Bahkan Fir’aun sekalipun, kata Francis Bacon, semasa hidupnya memiliki perpustakaan pribadi yang jumlah koleksi bukunya mencapai 20.000 buah.

Tentang betapa pentingnya buku dalam sendi kehidupan berbangsa ini dengan lantang diungkapkan oleh Tan Malaka dalam bukunya Madilog, “selama toko buku ada, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali. Kalau perlu dan memang perlu, pakaian dan makanan dikurangi”. Bahkan novelis asal Republik Ceko, Milan Kundera, mengungkapakan bahwa untuk menghancurkan peradaban sebuah bangsa, hancurkan saja buku bukunya, maka bangsa itu akan musnah.

Hal yang tak jauh berbeda juga diungkapkan oleh Walikota Surabaya, Tri Rismaharini. Baginya, kebiasaan membaca buku adalah kunci mujarab bagaimana membentuk sebuah bangsa yang kreatif. Dengan mencintai buku dan segala jenis literasi lainnya, penduduk sebuah negara akan terbiasa berimajinasi dan memprediksi banyak hal.

Secara tidak langsung, Bu Risma mengatakan bahwa kreativitas adalah kunci utama untuk memajukan dan mengembangkan kehidupan suatu persona, kelompok, atau bahkan negara. Jika ditelisik lebih jauh, salah satu penyebab Bangsa Indonesia tidak kunjung maju adalah karena SDM-nya minim kreativitas, sehingga tidak ada perubahan yang cukup signifikan yang muncul di masyarakat.

Pokok masalahnya sebenarnya berada pada rendahnya minat baca masyarakat Indonesia. Berdasarkan studi “Most Littered Nation In the World” yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Sedangkan pada pemeringkatan Programme for Internasional Student Assessment (PISA) pada tahun 2015, Indonesia menempati peringkat 69 dari 76 negara, dengan skor membaca di bawah rata-rata 396.

Ini tentu tamparan keras bagi bangsa yang berpenduduk lebih dari 260 juta jiwa ini. Padahal tidak sedikit penulis besar yang lahir dari perut Ibu Pertiwi. Sebut saja Pramoedya Ananta Toer, sastrawan kelahiran Blora yang beberapa kali dinominasikan sebagai pemenang hadiah Nobel Sastra.

Memang untuk menumbuhkan minat baca di Indonesia bukanlah perkara mudah, apalagi sastra yang telah lebih dulu mengakar di masyarakat adalah sastra lisan, bukan sastra tulis. Selain itu, budaya baca -apalagi di tempat umum- masih belum menjadi budaya yang populer. Label kutu buku malah berkembang menjadi kosakata yang berkonotasi negatif, sebagai representasi dari orang yang kuper, cupu, bahkan sok rajin.

Pada akhirnya masyarakat Indonesia menjadi orang-orang​ yang asing dengan buku. Padahal buku adalah media yang sangat baik untuk menstimulasi kreativitas, kemampuan berpikir empirik dan kemampuan linguistik seseorang. Dampaknya, masyarakat kita cenderung berkemampuan rendah dalam mencerna teks, kemudian tidak sanggup berpikir logis, kemudian lemah secara akademik, dan ujung-ujungnya hanya tumbuh menjadi tenaga kerja murah bagi para pemodal besar, lokal maupun asing, yang tak sedikitpun peduli terhadap apa saja kecuali keuntungan.

Untuk itu, sudah sepatutnya kita -terutama generasi muda- mulai peduli dengan hal ini. Indonesia sudah sangat membutuhkan adanya upaya konkret untuk memasyarakatkan buku, sehingga buku bisa menjadi barang sehari-hari dan budaya baca tidak menjadi sesuatu yang “ekslusif”. Upaya semacam ini bisa dimulai dengan membiasakan diri membaca buku 30 lembar per hari, atau membaca selama 15 menit sebelum pelajaran berlangsung di sekolah. Tentunya hal ini butuh dukungan dari semua pihak termasuk penyelenggara pendidikan, dengan menyediakan buku-buku bagus di perpustakaan, misalnya.

Dari usaha kecil semacam ini memang tidak banyak yang bisa diharapkan. Namun paling tidak, para generasi muda bisa mengenal nama-nama semacam Andrea Hirata, Eka Kurniawan, Ahmad Tohari, Seno Gumira Ajidarma, George Orwell, Ernest Hemingway, Haruki Murakami, Orhan Pamuk, Leo Tolstoy, hingga Gabriel Garcia Marquez sudah cukup untuk membangkitkan optimisme bahwa Indonesia tidak akan tenggelam dalam waktu dekat. (hi)

Penulis lepas. Bergiat di PMII Universitas Negeri Semarang. Tulisan ini sudah dimuat di Majalah Ma’arif edisi 2019.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.