Buka BacaResensiSastra

Berpikir Jernih sebelum Membagikan Informasi

Oleh Mohammad Zainudin Aklis

Maarifnujateng.or.id – Deras hujan informasi sudah tak seperti derasnya hujan dari langit yang dapat berhenti sewaktu-waktu dan mereda untuk tenggat yang cukup lama. Di dunia maya informasi hadir setiap detik dari berbagai belahan dunia. Kemajuan teknologi membuat banyak orang mudah memproduksi berita walaupun tidak berprofesi sebagai wartawan serta dapat memiliki website dengan harga yang terjangkau. Tak mengherankan bila kini banyak laman-laman berita yang beritanya copy paste lalu edit sedikit.

Kemunculan informasi yang berlebihan kini membuat banyak orang tak sempat meluangkan waktu barang sejenak untuk merenungi, memverifikasi informasi-informasi yang hadir di hadapannya, terutama informasi di gawai. Hal itu senada dengan ungkapan Mc Luhan di buku The Shallows “Media bukan hanya merupakan saluran informasi. Media menyediakan isi pikiran dan juga membentuk proses pikiran. Dan yang dilakukan internet adalah mengikis kemampuan saya dalam berkonsentrasi dan merenung”(hlm 3). Tak mengherankan bila berita hoax mudah beredar hingga menimbulkan masalah di dunia nyata yang membuat banyak orang berseteru satu-sama lain, tak terhindarkan keluarga serumah dan tetangga.

Hanya dengan satu klik saja semua orang dapat bertikai. Ini sangat berbahaya jika orang yang menyebar tak dapat menyaringnya. Apalagi ketika hoaxnya tentang suku, ras, dan agama. Pastinya akan gampang tersesult dan menyebar. Untuk menyaring isu agama, buku Saring sebelum Sharing karangan Gus Nadirsyah Hosen dapat dijadikan pegangan ampuh. Buku bercover biru kuning ini, memuat informasi seputar meneladani kisah Nabi, beberapa hadis yang disesuaikan dengan zaman serta bagaimana cara menangkal hoax yang sering terjadi.

Kehadiran buku Gus Nadir tak sekadar dimaksudkan untuk mengendalikan berita hoax belaka. Lebih dari itu, beliau juga melakukan perlawan terhadap beredarnya kutipan hadis-hadis yang dipakai tanpa menyertakan komentar atau syarah untuk menimbang kebenaran suatu hadis yang kadang dapat memunculkan kontroversi. Hal itu dapat kita tengok ditulisan berjudul Cara Duduk yang Dipersoalkan, yaitu duduk memeluk lulut ketika sedang khutbah jumat, duduk dengan bersandar tangan kiri, dan duduk iqa’.

Ketika terpampang gambar meme dan hanya mengatakan “Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari duduk dengan memeluk lutut pada saat imam sedang berkhutbah,”(hlm 189) tanpa ada hukum atau pandangan lain maka orang yang minim pengetahuannya tentang persoalan tersebut secara cepat akan dengan mudah memberikan label haram. Sehingga menimbulkan pemahaman yang kurang benar dan ketika melihat orang lain tidak sesuai dengan pemahamannya bisa-bisa akan dianggap keliru.

Pemahaman agama yang minim sebenarnya menjadi lahan yang subur ketika dilempari isu hoak seputar agama seperti ketika kayu kering bertemu api. Ada yang lebih menghawatirkan lagi yaitu ketika ada orang termakan hoak namun sewaktu diberi masukan berupa dalil dan bahkan buku-buku tebal yang berisi pemahaman lain tak mau merubah sedikitpun pandangannya. Jika sudah begitu tarafnya, maka otomatis berubah menjadi like dan dislike. Ketika terjadi seperti itu, sebaik apapun pandangan, seberapapun tingkat kebenarannya, serta siapapun yang menyampaikannya akan ditolak mentah-mentah.

Teks Gus Nadir tak hanya mengobrolkan kurang adanya syarah atau hadis pembanding ketika ada yang menampilkan suatu hadis. Ia juga menghadirkan sebuah pembahasan yang seringkali masih dipermasalahkan dengan jawaban yang sederhana dan mengena. Kita bisa melihat bahasan yang masih menjadi perdebatan oleh sebagian orang misalnya seperti bid’ah. Di judul Bagaimana Memahami Bid’ah?, Gus Nadir menjabarkan pemahaman bid’ah dengan jenis tulisan cerita pendek.

Penjelasan yang dipakai pun tak rumit dan gamblang. Lewat tokoh bernama Haji Yunus, Gus Nadir menjelaskan batasan mana yang bisa dianggap bid’ah dan bukan, mari kita simak bersama-sama “Jikalau tidak ada larangan tetapi ia melanggar ma’lum min al-din bi al-dlaururah58, ia jatuh pada bid’ah. Kalau tidak ada larangan dan tidak ada ketentuan syariat yang dilanggar, amalan tersebut statusnya mubah, bukannya bid’ah!”(hlm150).

Meskipun penjelasan begitu gamblang dan tanpa menimbulkan pertanyaan balik, sosok Haji Yunus di akhir cerita mengakhiri ceritanya dengan kalimat kehati-hatian. Mari kita simak bersama “Apa yang saya sampaikan ini tentu belum sempurna dan belum memuaskan para jemaah semua. Saya Mohon ampun pada Allah atas kekhilafan dan kekurangan saya. Semoga Allah menunjukkan kita jalan yang lurus.”(hlm 153) Kalimat kehati-hatian ini, bukan karena kurangnya rasa percaya diri terhadap apa yang disampaikan. Namun, kesadaran masih adanya celah-celah untuk menghadirkan sebuah diskusi sebab dimungkinkan masih ada pendapat lain.

Buku Saring sebelum Sharing dapat menjadi rujukan untuk mengatasi permasalahan-permasalahan agama yang terjadi belakangan ini. Karena isinya relevan dengan isu-isu keseharian kita di masyarakat. Ya, walaupun buku ini dilahirkan dangan kemasan milenial serta di endorsement oleh beberapa orang tersohor, tanpa begitu buku ini masih mempunyai peminat pembaca yang luas karena kualitas isinya. Sebab banyak endorsement bukan ukuran kualitas sebuah buku. Kira-kira bagaimana reaksi pembeli yang menilai buku dari endorsement dan ternyata isinya tak sesuai angan?

Catatan: 58 Ketentuan Agama yang telah menjadi aksioma

Biodata Buku

Judul Buku                  : Saring sebelum Sharing

Pengarang                    : Nadirsyah Hosen

Penerbit                       : Bentang Pustaka

Tahun Terbit               : Februari 2019

Tebal   Halaman          : xvi + 328 halaman

-Peresensi merupakan staf LP Ma’arif PWNU Jawa Tengah

Tinggalkan Balasan