ArtikelEsai

Ada ‘Tukang Kebun’ di Ma’arif (2)

Oleh Hamidulloh Ibda

Saya mempunyai teman guru yang tugasnya melimpah ruah. Meski masih muda, namun ia juga tak luput dari sindrom mengeluh. Tidak hanya mengelola kelas, ia juga disibukkan di wilayah administratif, nyambi menjadi operator sekolah, tata usaha (TU), bahkan mewakili kepala sekolah lantaran kepala sekolahnya ‘tidak jalan’.

Saya sendiri pernah bertanya, guru dengan TU bedane opo?

Ia pernah bercerita, menjadi guru itu tidak mudah. Meski saat masuk pun berbasis nepotisme, lobi sana, lobi sini, ndepe-ndepe dengan yayasan dan kepala madrasahnya, bukan kompetensi dan kualitas yang diutamakan. Bahkan, ia pun sempat ingin ‘pensiun’ alias keluar, karena gaji yang ia dapat tidak cucuk (cukup) untuk kehidupan sehari-hari.

Jebul dadi guru ki gaweane sak abreg, Kang. Meh konsen ning kelas ora iso, la sibuk ngurus administrasi. Opo maneh arep akreditasi, blas ora iso kumpul bojo” (ternyata menjadi guru itu kerjaannya banyak, Mas. Mau konsentrasi di kelas tidak bisa, karena sibuk mengurusi urusan administrasi. Apalagi jelang akreditasi, tidak bisa berkumpul dengan istri), keluhnya lewat WhatsApp pribadinya.

Saya pun menjawab singkat, “Wes suwe leh, dadi tukang kebun ki abot,” (sudah lama kalau menjadi tukang kebun itu berat), kataku kepadanya.

Ia pun semakin mengejarku. “Maksud tukang kebun itu apa, Kang?” tanyanya penasaran. Memang, sengaja saya buat dia penasaran, karena guru-guru atau mahasiswa calon guru saat ini sudah kehilangan nalar “penasaran” pada sesuatu. Padahal, sifat dari ilmuwan itu salah satunya penasaran akan hal baru dan unik.

Ketika kehilangan rasa penasaran itu, hilanglah kepekaan rohani, jasmani bahkan kepekaan sosial. Akhirnya, timbullah kepekokan, kejumudan, kekakuan, karena tanpa sadar, saat ini manusia dididik menjadi “robot” yang sepaket dengan gempuran digitalisasi di era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0.

Jika kita fair, keluhan-keluhan seperti di atas tentu akan menghujani layanan pesan kita ketika guru-guru itu terbuka alias open mind. Selama ini mereka diam-diam memendam keresahan meski tidak sampai mematikan. Profesi yang aslinya mulia menjadi rendah dan tidak dihargai karena masih banyak guru yang “kurang” bahkan “tidak mencintai” profesinya sendiri. Ditambah lagi, dengan beban kerja seabreg, kinerja di lembaga yang tidak sesuai job, antara pendidik dan tenaga kependidikan tidak jelas pembagian tugasnya.

Kebun: Madrasah dan Sekolah

Kebun, sawah, ladang, tegal, atau ndadah, bagi orang Jawa dapat dikatakan sebagai tempat bercocok tanam, menanam, investasi, dan lainnya. Jika kita melihat konstruksi akar katanya, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) atau Raudlatul Athfal (RA) dari kata raudlah yang artinya taman, kebun, ladang. Berkembang di jenjang berikutnya bernama madrasah dan sekolah, dari MI/SD sampai MA/SMA/SMK yang dicita-citakan sebagai “taman indah” bagi anak-anak atau pelajar.

Sekolah dari bahasa Latin skhole, scola, scolae, skhola, yang artinya waktu nganggur, luang, waktu senggang. Lebih luas, sekolah adalah tempat untuk belajar anak-anak ketika waktu senggang. Sedangkan madrasah dari kata darasa yang hakikatnya bermakna belajar. Madrasah berarti tempat belajar. Baik raudlah, sekolah, atau madrasah sama-sama bertujuan baik untuk mencerdaskan bangsa.

Apapun akar katanya, konteks di sini yang pas tetap raudlah atau raudhah yang merupakan taman surga. Wajar jika banyak sekolah dari PAUD/RA, sampai SMA/SMK/MA yang menginduk di yayasan berlabel “raudlah”. Seperti Raudlatul Jannah, Raudlatul Jinan, Raudlatul Ulum, Raudlatul Muta’allimin, Raudlatul Falah, Raudlatul Makfufin, dan lainnya.

Tidak lain, semua bercita-cita menjadi “taman indah” atau “kebun indah”. Kalau bahasa orang Pati, menyebut raudlah adalah “emper surga”. Sekolah yang berlabel raudlah, otomatis mencita-citakan diri sebagai taman surga. Ya dari manajemennya, kurikulum, ruang kelas, hingga kamar mandinya. Saat ini pun, pemerintah kabupaten/kota berlomba-lomba mendirikan taman meski akhirnya juga mangkrak. Tapi, semuanya bercita-cita ingin punya taman termasuk kantor, kampus, rumah sakit, hingga halaman rumah.

Dalam sejarahnya, raudhah dulu berada di luar halaman Masjid Nabawi. Tepatnya, di antara rumah Nabi Muhammad dengan sebutan mighrab (mimbar di Masjid Nabawi). Lokasi itu menjadi taman surga yang tidak pernah sepi oleh jemaah haji dan umroh tiap tahun dan tiap harinya.

Setelah Masjid Nabawi diluaskan, posisi raudhah kini terletak di dalam masjid yang ukurannya sekitar 22 x 15 meter. Tempat ini harus dijaga karena selain memiliki akar historis yang sakral juga menjadi cipratan taman surga di dunia. Hal itu sudah tersirat dalam hadis Nabi Muhammad Saw. “Tempat yang di antara rumahku dan mimbarku adalah raudhah (taman) di antara taman-taman surga” (HR. Bukhari).

Dari peta epistemologi dan akar sejarahnya, raudlah menjadi bagian dari tempat sakral. Dalam skala lebih kecil, madrasah atau sekolah hakikatnya memang kebun atau taman. Guru, otomatis menjadi ‘tukang kebun’ yang bertugas ngrancang, mulang, dengan tujuan menjaga kebenaran, kebaikan, dan keindahan kebun atau taman tersebut.

Masalahnya, apakah semua guru memiliki pemahaman bahwa madrasah/sekolah hakikatnya adalah kebun? Dan guru sudahkah tahu kalau posisinya tukang kebun?

Tukang Kebun Sesungguhnya

Sekali lagi, madrasah dan sekolah adalah kebun, dan guru adalah tukang kebunnya, tanamannya adalah murid. Dengan konsep ini, dan realitas praktik pendidikan seperti yang dialami teman saya di atas, sebenarnya masih banyak problematika pendidikan yang masih belang bonteng.

Mengapa? Karena pendidik dan tenaga kependidikan hakikatnya adalah tukang kebun semuanya. Tidak hanya guru, meski ia menjadi intinya inti dalam menyirami gizi intelektual, spiritual, dan emosional pada anak-anak, pelajar, mahasiswa atau tanaman tersebut, namun semua tenaga kependidikan atau warga sekolah harus turut menjadi ‘tukang kebun’.

Meski demikian, pemahaman mendasar bahwa guru kini telah bergeser menjadi “robot akademik” yang harus dicari solusinya. Tiap waktu, guru-guru terlalu sibuk mengurusi babakan administrasi, khususnya menjelang momen sertifikasi, kenaikan pangkat, akreditasi, atau saat monitoring evaluation.

Untuk itu, pembagian tugas harusnya senada dan seirama sesuai tupoksi. Sebab, di lembaga pendidikan ada pendidik (guru), dan tenaga kependidikan (TU, penjaga perpustakaan), dan lainnya. Mereka adalah tukang kebun sesungguhnya, namun yang menjadi intinya inti tetaplah guru.

Sebab, yang dihadapi guru bukan benda mati (laptop, kertas, meja), melainkan yang dihadapi adalah peserta didik yang memiliki logika, rasa, hati, dan sejenisnya. Maka praktik pendidikan yang teknis dalam pembelajaran harus menyeluruh dari aspek olah rasa, olah hati, olah pikir, dan olah raga. Jangan hanya olah-olah tersebut parsial dan presisinya tidak pas.

Tanaman yang diberi air, pupuk, obat-obatan organik maupun anorganik, dibuang semak belukar di sekitarnya, tentu akan berbeda dengan tanaman yang dibiarkan. Padahal, hal itu semua kadang paradoks dengan realitas, karena menanam kebaikan belum tentu tumbuh kebaikan, begitu sebaliknya.

Meski demikian, kebaikan harus tetap ditanam. Sebagai contoh, ketika menanam padi, jagung, kacang, pasti akan tumbuh rumput liar yang bisa dikategorikan sebagai kejahatan. Sedangkan kejahatan itu tidak pernah ada yang menanamnya, namun ia tumbuh dan menjadi pengganggu. Artinya, tugas guru menanamkan kebenaran, kebaikan, dan keindahan pada siswa memang berat karena tidak semua yang guru lakukan akan menuai hasil panen kebaikan.

Yang paling penting di sini justru membenahi dari akar bahwa guru adalah tukang kebun. Rumusnya, jika metode lebih penting dari materi, guru lebih penting dari metode itu sendiri, dan ruhul mudarris (ruh/spirit) guru itu sendiri lebih utama dari guru itu sendiri.

Sudah jelas yang menjadi inti adalah spiritnya tukang kebun menjaga dan memperindah kebun. Mau dibebani menjadi operator sekolah, mengantar anak lomba, diberi tugas tambahan menjadi TU, tapi guru tetaplah manusia, guru tetaplah guru, dan guru tetaplah tukang kebun. Tukang kebun itu menjadi inti dari keindahan kebun.

Jika spiritnya sudah matang menjadi tukang kebun, ia pasti siap difungsikan apa saja. Karena yang paling penting tidak menjadi apa, tapi berbuat apa.

Dus, adakah sosok tukang kebun yang demikian?  Jika ada, saya ingin belajar dengannya, dan kapan kita dapat bersua dan ngopi bersama?

Penulis merupakan dosen dan Kaprodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) STAINU Temanggung.

Tinggalkan Balasan