ArtikelEsai

Ada ‘Tukang Kebun’ di Ma’arif (1)

Oleh Hamidulloh Ibda

Suatu ketika, Gus Dur pernah berpesan kepada Alissa Wahid saat mau kuliah. “Sak apik-apike kampus, nek awakmu ora apik, tetepo angel dadi wong apek. Sak elek-eleke kampus, nek awakmu apek, awakmu tetap bakal dadi apik,” kata Gus Dur pada Alissa yang diceritakan dalam suatu forum Maiyah di Jogjakarta pada 2012 silam.

Dari pesan ini, saya mau kilas balik. Banyak pengalaman perlu saya ulas di sini yang mengiringi proses khidmat di LP Ma’arif PWNU Jawa Tengah. Pada akhir 2018 lalu saya dijawil Ketua LP Ma’arif PWNU Jateng Pak Andi Irawan untuk berkhidmat di Bidang Diklat dan Litbang. Sampai Agustus 2019 ini saya mengalami dan mendengar beberapa cerita konyol yang sarat akan pesan dan makna kehidupan mendalam.

Personel LP Ma’arif PWNU Jateng periode 2018-2023 orangya memang aneh-aneh, konyol-konyol, lucu, unik, dan enigmatis. Namun di balik itu semua tersimpan komitmen untuk berjuang lahir dan batin untuk memajukan madrasah/sekolah Ma’arif. Wajar, jika Ketua PWNU Jateng KH. Muhamad Muzamil pernah mengatakan bahwa pengurus NU sekarang wajahnya “ndeso-ndeso”.

Di balik wajah “ndeso” itulah, sebenarnya tersimpan keluhuran budi dan kejernihan niat khidmat di NU yang tak kalah progresif dari pengurus NU berwajah kota. Sampai-sampai, ada cerita unik yang dialami beberapa pengurus LP Ma’arif yang itu menandakan kemunduran cara berpikir masyarakat yang terlalu berkiblat pada yang fisik.

‘Tukang Kebun’

Ini bukan soal profesi, namun tentang cara berpikir masyarakat yang masih materialistik dengan memandang manusia lain dari aspek zahir, bungkus, baju, cassing, formal, dan praupan (wajah)  saja. Ini berbahaya jika dibiarkan. Sebab, perubahan besar sangat ditentukan perubahan cara berpikir. Tidak ada perubahan besar tanpa diawali dengan perubahan cara berpikir.

Manusia saat ini tidak mampu mengomparasikan berpikir ada dalam pikiran, ada dalam realitas atau kenyataan, dan kemungkinan adanya. Maka sangat wajar, yang dilihat sebagai ada (subtansi) hanya sekadar pada fisik saja, belum sampai metafisik.

Seperti contoh, pengurus Ma’arif pada suatu ketika disebut sebagai penjual mie ayam, tukang plat nomor, penjual nasi kucing, penjaga toko buku, staf administrasi, hingga tukang kebun.

Apakah mereka marah? Tidak. Justru, sebutan itu menjadi bahan guyonan sekaligus refleksi bahwa manusia sekarang cara berpikirnya memang mengutamakan fisik, bukan metafisik. Meski pepatah Jawa menyebut ajining rogo soko busono (harga diri badan dari pakaian), namun bukan pakaian yang kita kenakan yang menjadi masalah. Akan tetapi, lebih pada cara berpikir masyarakat yang lebih mengutamakan dan terjebak pada baju saja.

Saya sendiri, sering ditempatkan sebagai ‘tukang kebun’ di berbagai forum. Seperti contoh beberapa bulan lalu, saya saat menjadi Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN di suatu desa di Kecamatan Kandangan. Saat penyerahan peserta KKN, saya duduk bersama kawan-kawan mahasiswa.

Saat Kades dan Sekdes sambutan, saya pun tidak “dianggap” karena saya dikira mahasiswa peserta KKN. Baru ketika ada mahasiswa perwakilan kordes menyampaikan bahwa ada DPL di forum itu dan DPL itu adalah saya, barulah Sekdes menyebut nama saya dan meminta maaf karena saya dikira mahasiswa. “Waduh, berarti aku iki iseh nom”, pikir saya dalam hati saat itu.

Saat Pembukaan Porsema XI di Temanggung, karena saya nyedak dan dibisiki Gus Huda (KH. Hudallah Ridwan Naim, Sekretaris PWNU Jateng) untuk menulis rillis berita, orang pun juga salah sangka. Ketua RMI NU Temanggung mengira saya adalah anaknya Gus Huda (kalau ini berkahe nderek kiai).

“Jenengan putrane Gus Huda?”, tanya beliau saat itu. Saya jawab, “Boten, saya pengurus Ma’arif Jateng,” kata saya kala itu. Memang, tampaknya saya tidak pantas jadi pengurus LP Ma’arif PWNU Jateng.

Banyak hal lain yang sangat lucu dan menjadi pesan bagi kita untuk terus meluruskan cara berpikir masyarakat yang masih sebatas formalistik simbolis. Ini bukan perkara sepele, bukan pula pekerjaan mudah karena bersifat radikal (mendasar) dari akar tentang cara berpikir.

To Do atau To Be?

Sedikitnya, ada tiga kelas dalam menghadapi kehidupan. Pertama, orientasi akhirat. Jelas, semua hidupnya untuk akhirat. Ini susah, karena makamnya bukan orang biasa. Jika dalam tasawuf kita diajak mengutamakan akhirat tanpa meninggalkan dunia, tapi jika kita belajar pada ajaran Buddhisme, maka tidak sekadar “meninggalkan dunia”. Namun, Buddha mengajak umat manusia “membunuh dunia”. Apakah kita bisa? Yo angel tenan!

Kedua, orientasi dunia. Tipe ini hanya melulu bekerja untuk menumpuk harta. Semua orang bisa. Padahal, semua harta fisik yang dimiliki, saat kita mati hanya membawa kain kafan dan amal saleh. Tipe ini yang paling banyak diminati tanpa sadar di semua elemen masyarakat. Apa saja, diukur dari kacamata materialisme. Orang dihormati, dipandang, dipuja, ditakuti, lantaran berharta dan memiliki jabatan. Bukan karena alim, kiai, atau yang berilmu. Ironis!

Ketiga, orientasi dunia dan akhirat. Ini tipe ideal. Tapi, sangat susah karena di antara dua pilihan, pasti ada salah satu yang diutamakan. Namun Islam mengajarkan untuk menundukkan dunia untuk kepentingan akhirat. Sebab, tidak ada apapun di dunia ini yang gratis, bahkan ibadah pun butuh harta. Lalu, apa solusinya?

Solusinya jelas kita memilih tipe ketiga dengan prinsip mengutamakan substansi daripada bungkus. Prinsipnya tidak penting kita jadi apa (to be), karena jauh lebih penting adalah berbuat apa (to do). Gagasan ini sebenarnya senada dengan pilar belajar Unesco. Tidak hanya learning to know (belajar mengetahui), namun antara learning to do (belajar melakukan sesuatu), learning to be (belajar menjadi sesuatu), dan learning to live together (belajar hidup bersama) harus seimbang.

Raja Surakarta, Sri Susuhunan Pakubuwana IV dalam Serat Wulangreh (1929) juga jelas menyebut kunci pendidikan ada pada laku (to do). Bunyinya; “Ngelmu iku kalakone kanthi laku, lekase lawan kas, tegese kas nyantosani, setya budya pangekese durangkara”. Artinya, ilmu itu dapat dipahami atau dikuasai harus dengan cara, cara pencapaiannya dengan cara kas, artinya kas berusaha keras memperkokoh karakter, kokohnya budi (karakter) akan menjauhkan diri dari watak angkara.

Harusnya, pendidikan kita, khususnya madrasah/sekolah Ma’arif menangkap sinyal ini. Jika Kemdikbud menghimbau untuk menerapkan Higher Order Thinking Skills (HOTS) yang diambil dari konsepnya Benjamin S. Bloom, dkk dari buku Taxonomy of Educational Objectives: The Classification of Educational Goals (1956), to do harusnya diutamakan, tidak sekadar to know atau to be. Apalagi, kaliber “berbuat” itu ada pada level tertinggi, mulai dari mengingat (remembering), memahami (understanding), mengaplikasikan (applying), menganalisis (analyzing), mengevaluasi (evaluating), dan mencipta (creating).

Pendidikan kita harus menyelaraskan semua komponen di atas terutama mengajak anak untuk mengutamakan laku, berbudi, dan berpola hidup yang mengawalkan “berbuat apa” bukan “menjadi apa” agar kesuksesan hidup tidak dimaknai sebagai profesi saja.

Meski kita berharta, punya jabatan, namun kita miskin kerja, amal saleh, dan ibadah, apa gunanya itu semua? Guru-guru tampaknya perlu mendekonstruksi paradigma “to do” dan “to be” yang seimbang agar murid tidak kehilangan arah dalam belajar.

Cak Nun dalam salah satu forum Maiyah, pernah menarasikan tiga kelas manusia. Pertama kelas pacul, orang yang orientasi harta. Kedua, kelas pedang yang orientasinya jabatan. Ketiga, kelas keris, yang orientasinya “aji”, ilmu, dan “ngalim”.

Logikanya, orang yang memiliki pacul, belum tentu memiliki pedang. Orang yang punya pedang, bisa jadi punya pacul, namun belum tentu punya keris. Tapi jika orang punya keris, dipastikan memiliki pedang dan pacul. Pertanyaannya, mengapa kita memburu dunia, harta, jabatan, to be,dan tidak mengejar keris tersebut?

Keris di sini, saya menafsir bukanlah senjata, ia adalah “pusaka”. Artinya, pusaka ini menjadi pegangan hidup yang mengajarkan kita mengutamakan substansi daripada bungkus. Mengajarkan kita berbuat apa (to do) daripada menjadi apa (to be). Dan itu semua ada pada sosok kiai, ulama, atau orang alim yang jumlahnya ribuan di NU.

Sudah jelas, mau disebut tukang kebun, bakul mie ayam, tukang plat, itu hanya bagian dari asesories dunia yang tidak ada apa-apanya. Sebab, kalau menurut Mbah Sahal Mahfudz, “emas ditaruh di comberan, ia tetap emas”. Emas tidak akan menjadi comberan meski ditaruh di peceren atau got.

Dus, lebih penting mana, kita ini jadi tukang kebun (to be) atau melakukan pekerjaan tukang kebun (to do)? Tukang kebun jelas, merawat, menjaga dan membersihkan kebun dari kotoran agar tetap indah.

Lebih penting lagi, kita ini emas atau peceren?

Penulis merupakan dosen dan Kaprodi PGMI STAINU Temanggung.

Tinggalkan Balasan