CerpenSastra

13 Kisah Sederhana tentang Anak Yatim

Oleh Niam At-Majha

1.

Malam ke delapan rumah menjadi sepi, padahal biasanya ramai, banyak tetangga, saudara berdatangan, membacakan Tahlil, doa bersama untuk Bapak  beberapa hari lalu meninggal tanpa sebab, tanpa sakit, tanpa permisi tak pamit terlebih dahulu.

Padahal saya khittan baru satu bulan, itupun atas desakan Bapak jika saya harus khittan bulan ini, tak boleh di tunda lagi.

“Le…bulan ini kamu harus khittan ini permintaan Bapak untuk terkahir kalinya, jika menunggu bulan depan Bapak tak bisa menungguimu,”

Saya menggangguk saja, ketika mendengarkan perkataan Bapak; saya yang baru kelas 3 MI belum mampu menolak permintaannya serta mencerna maksud dan tujuan Bapak tersebut. Saya baru bisa menyadari apabila ucapan tersebut adalah penanda, berpamitan meninggalkan saya dan Ibu untuk selamanya.

2.

Diam-diam saya mendengar ocehan para tetangga, omongan saudara dari Bapak perihal kematian Bapak tersebut.

“Kematiannya tanpa sebab, apa mungkin di racun, atau kena teluh, tanpa sakit atau yang lain, hanya sakit kepala dan mual-mual saja, belum sempat dibawa ke puskesmas sudah meninggal,”

Celotehan-celotehan seperti itu sering saya dengar baik secara langsung atau pun tak langsung. Sempat dongkol, sakit hati tapi bagaimana lagi; sebab orang ngomong, ngegosip adalah pekerjaan yang paling nikmat dan mengasyikkan mengalahkan kenikmatan lain.

“Le…kau tak usah mendengarkan apa yang di omongkan tetangga-tetangga kita, atau saudara-saudara kita, yang terpenting adalah pendidikanmu akan terus berlanjut, Ibumu akan selalu mendoakanmu dan akan selalu mencari hal terbaik demi masa depanmu, Bapakmu meninggal adalah kehendak Allah, kita sebagai mahluk tak bisa melanggar atau menolak apa yang sudah menjadi kehendak-Nya”

3.

Sepeninggal Bapak, saya lebih suka menyendiri tak seceria dulu; biasanya setiap pagi ketika Ibu menyiapkan sarapan Bapak yang mengambil air di sumur untuk memandikan saya, membantu saya mengenakan seragam sekolah, menyuapi ketika sarapan serta menyiapkan keperluan sekolah. Memang selama ini saya lebih bermanja-manja dengan Bapak. Bapak tak pernah marah atau membentak saya atas kebandelan saya, Bapak selalu memberi nasihat terbaik, selalu menjadi pengayom dan berlindung buat saya dan Ibu.

“Meskipun Bapakmu sudah meninggal, jangan sampai kau merasa berkecil hati atau minder dengan teman-teman sebayamu, ketika kau ingin sesuatu bilang sama Ibu biar nanti Ibu yang mencarikannya, jika Ibu belum mampu mengabulkannya bersabar  dahalu”

Nasihat-nasihat Ibu ketika menyuapi saya saat akan berangkat sekolah adalah bentuk penyemangat saya, apabila menjadi anak yatim itu bukan perkara mudah, akan tetapi bagaimana lagi saya harus menerimanya dengan lapang dan pura-pura bahagia.

4.

Kesedihan yang paling menyakitkan bukan saat Bapak meninggalkan saya dan Ibu; melainkan ketika bulan puasa dan menyambut hari lebaran. Karena lebaran adalah moment yang paling membahagiakan. Jika waktu masih ada Bapak saya selalu di belikan baju lebaran, tak hanya sepasang akan tetapi dua pasang. Bapak selalu bilang setahun sekali dihari kemenangan kita harus tampil lebih baik dari hari –hari sebelumnya.

“Le besok ada undangan santunan di desa sebelah, biasanya setiap tahun memang selalu di adakan untuk memberikan santunan kepada anak yatim dan orang tidak mampu, ada sembako dan sejumlah uang, kau datang ya..!”

Sebenarnya jika bukan atas permintaan Ibu; saya tak mau ikut acara tersebut, sebab mereka menjual kesedihan saya dan teman-teman yang senasib untuk di pertontonkan, demi mengangkat status sosial orang yang memberikan santunan tersebut dengan label dermawan.

Lebih mengerikan lagi, para penyantun tersebut tak pernah merasakan atau mengalami perasaan anak yatim yang di pertontonkan  tersebut.  Disuruh baris rapi dan diberikan amplop sambil di usap-usap  rambut kepalanya.

5.

 “Hadirin para kaum muslimin dan muslimat, para dermawan di atas panggung ini berbaris lahan pahala, dan harta yang di berikan kepada anak yatim akan berlipat ganda, jadi para hadirin jangan sampai terlewatkan moment seperti ini, kalau bukan kita siapa lagi yang mengasihi mereka semua,”

Puncak dari kesedihan adalah ketika tak bisa mengeluarkan air mata; menangis akan tetapi air mata tak bisa keluar, dada bergemuruh tak karuan, perasaan minder dan takut. Saya hanya tertunduk tak berani melihat kedepan ketika panitia santunan mengucapkan hal tersebut dengan mulut berbusa-busa dan semangat membabi buta.

Firman adalah teman satu kampung dengan saya, dia setiap kali ada santunan pasti menangis ketika di suruh naik kepanggung. Dia menangis se-jadi-jadinya menolak dengan brutal dan lain sebagainya.

“Bu…besok jika Firman tak mau naik keatas panggung tak akan diberikan santunan, kami sebagai panitia mengusahakan yang terbaik buat kesejahteraan kalian semua,”

Mendengar perkataan tersebut Ibunya Firman hanya tertunduk lesu tak bisa berbuat apa-apa. Saya tahu perasaannya Firman, minder, takut atau lainnya sebab anak yatim akan paham dan memahami perasaan sesamanya.

6.

Sepulang dari acara santunan, dengan membawa sembako dan uang yang tak seberapa akan tetapi perasaan sedih, minder setelah dipertontonkan akan selalu melekat dalam akal pikiran hingga tua. Mempertaruhkan harga diri? Ah apakah anak yatim seperti saya ini masih memikirkan harga diri.

Dengan mata yang berkaca-kaca Ibu memeluk saya ketika saya sampai rumah reot peninggalan Bapak, meski rumah sederhana akan tetapi kami berdua tinggal dengan penuh kebahagiaan.

“Le…kelak ketika kau sudah dewasa, sudah menjadi orang sukses jangan lupa dengan orang-orang yang pernah menolong kita, yang pernah memberikan sesuatu terhadapmu, jangan lihat nilai yang diberikannya akan tetapi ketulusannya, biasanya orang tulus dan ikhlas itu memberikan sesuatu tanpa harus di perlihatkan kepada orang lain atau sengaja dipertontonkan dengan dalih biar dibilang orang dermawan.

7.

Yi Binuk adalah dermawan sejati, dia adalah pedagang sayuran dengan cara di gendong tiap hari berjalan puluhan kilo meter untuk menawarkan dagangannya; satu hal keunikan yang saya ingat saat ini yaitu setiap anak yatim selalu dikasih jajanan pasar siapa pun itu; tak terkecuali saya. Yi Binuk setiap hari selalu memberi jajan terhadap saya tanpa absen.

Ketika para orang-orang yang menurut saya lebih terdidik ketimbang pedagang sayuran tersebut berlomba-lomba mencari label dari masyarakat agar status sosialnya nampak terhormat apabila setiap kali ada acara santunan selalu turut hadir dengan di pertontonkan dan menjual kesedihan anak yatim kepada masyarakat umum. Namun Yi Binuk berbeda tiap hari selalu berbagi, selalu memberi tanpa pamrih, tanpa perlu mencari pengakuan atau pengumuman

“Le…ini jajan untukmu, semoga kelak sudah besar Mbah hanya mendoakanmu agar kau menjadi orang dalam tanda kutip yang tak lupa akan sekelilingmu, berbagilah tanpa alasan, nanti yang menggantinya yaitu yang Allah maha kuasa sendiri,”

8.

“Ibu…waktu di sekolah tadi ada guru yang bertanya sudah mempunyai jajan buat lebaran atau belum? Karena nanti waktu lebaran kita harus menyuguhi saudara, tetangga yang datang silaturrahmi ke rumah kita. Ketika Ibu guru bertanya seperti itu saya hanya diam saja, bukan hanya saja yang diam Bu, Firman juga diam, apa mungkin sama seperti kita belum mempunyai jajan buat lebaran ya, “

Belum selesai bercerita Ibu langsung memeluk saya, tanpa kata-kata. Tapi saya tahu jika Ibu saya menangis meskipun dia menutupinya dengan mengatakan kena debu.

“Besok kita beli jajanan, kau boleh memilih apa yang kau sukai, nanti waktu lebaran kau bisa mengundang teman-temanmu untuk datang ke rumah, Ibu akan mempersiapkan semuanya, jangan kawatir apabila hidangannya tak cukup Ibu akan mempersiapkan lebih,”

Beberapa hari kemudian nampak Ibu lebih sibuk dari hari-hari sebelumnya, entah pergi kesawah untuk di mintai tetangga ikutan memanen padi, atau mencari rumput yang akan di jual kepada peternak.

“Jika kau pulang sekolah Ibu tak di rumah kau jangan nangis ya, Ibu lagi bekerja untuk mengumpulkan uang, kerja apa saja Ibu lakukan asalkan halal dan sebentar lagi lebaran, tentu Ibu akan membelikan baju baru dan jajanan yang kau minta kemarin,”

9.

Semenjak itu, saya mulai belajar mandiri dan tak menuntut apa-apa atau meminta sesuatu kepada Ibu. Setelah Ibu mengatakan semuanya,  saya baru menyadari apabila saya tak mempunyai Bapak lagi, sekarang yang menjadi tulang punggung keluarga adalah Ibu, maka dari itu saya harus bisa tahu diri.

Tentu saya harus kuat untuk menghadapi kenyataan hidup ini; bersedih boleh akan tetapi jangan berlarut-larut, sebab apabila terus bersedih bagaimana mampu untuk meraih masa depan lebih cermelang.

10.

Saya dan Firman saja ketika pergi ke sekolah dengan jalan kaki, teman teman sudah diantarkan menggunakan sepeda montor, meskipun jaraknya lumayan jauh 2 km akan tetapi tetap harus saya lakukan, demi sebuah masa depan. Apabila teman sebaya saya tiap tahun bisa berganti sepatu atau tas, saya bergantinya jika sudah rusak total tak bisa dibenahi.

Setiap kali akan berangkat sekolah saya selalu berpamitan, bersalaman, minta doa restu untuk menuntut ilmu; Bapak saya selalu mengajarkan itu, pergi dan pulang selalu berpamitan.

Setelah Bapak tiada saya hanya berpamitan dengan Ibu, dan Ibu selalu mendoakan agar saya menjadi anak kuat dan sholeh, berusahalah menjadi bintang meskipun cahayanya kecil akan tetapi cahayanya miliknya sendiri. Berbeda dengan bulan cahayanya besar akan tetapi hasil pinjaman.

11.

Manjadi anak yatim bukanlah pilihan, saya tak bisa memilih untuk itu, akan tetapi saya harus menerima titah yang telah di berikan Tuhan kepada saya; tentu Tuhan mempunyai rencana yang lebih baik tanpa memberitahu mahluk-Nya.

Ibu selalu mendoakan kelak ketika dewasa saya bisa berbagi kepada anak yatim dan orang-orang tidak mampu. Namun satu pesan yang hingga saat ini selalu saya ingat dan tak bisa melupanya.

“Le…kelak apabila kau diberikan rejeki yang berlebih oleh Tuhan jangan lupa bersedekah kepada orang yang membutuhkan terutama kepada anak yatim, tapi pesan Ibu jangan kau undangan dan kau pertontonkan, kau sempatkan datang kerumahnya ketuk pintu rumahnya, silaturrahmi ajak bicara dari hati ke hati, tak perlu kau mencari sanjungan dari manusia, dan lagi ketika kau bersedekah lantas kau ingin di katakan dermawan, di umumkan di sana-di sini cukup kau dan Tuhan saja yang mengetahui apa yang kau berikan kepada mahluk-Nya”

12.

Anak yatim lebih membutuhkan kasih sayang, perhatian di tiap harinya. Memberikan santunan dengan cara di pertontonkan dengan dalih untuk menarik orang lain agar ikut memberi santunan.  Kegiatan tersebut bukan sesuatu yang santun. Datangi mereka ajak bicara, berikan perhatian seperti yang diberikan oleh Yi Binuk, ia berbagi tanpa meminta pamrih sedikit pun, apalagi sanjungan.

13.

Saya yakin orang yang menjual kesedihan anak yatim dengan mempertontonkan dengan mengumumkan lebih pintar dan lebih terpelajar. Akan tetapi banyak yang lupa apabila dari anak yatim pula lah kita di kasih dua pilihan di kehidupan setelah kematian, mau singgah di surga atau neraka.

Pati, Agustus 2019

Tinggalkan Balasan