Fri. Aug 23rd, 2019

LPM PWNU Jateng

Lembaga Pendidikan Ma'arif Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah

KHOIRUL MUSLIMIN : MENDIDIK POLITISI JUJUR

4 min read

Khoirul Muslimin, S.Sosi, MIKom, Pengurus Ma’arif NU Jawa Tengah Bidang Pramuka, Olahraga dan Seni
Pengurus Ma’arif NU Jawa Tengah Bidang Pramuka, Olahraga dan Seni

Oleh : Khoirul Muslimin, S.Sosi, MIKom

Ah…saya tidak akan menggunakan hak saya pada pemilihan legislatif maupun presiden. Tidak ada yang cocok. Semua politisi tidak jujur dan tidak memperhatikan kehidupan orang kecil. Mereka hanya mementingkan golongannya saja”

Itulah rintihan Sri, masyarakat buruh pinggiran kota Semarang. Bisa jadi apa yang dirasakan Sri sama dengan berjuta-juta masyarakat lain yang juga tidak menggunakan hak politiknya. Mereka mengidamkan wakil rakyat yang bekerja jujur dan tentu saja memperhatikan kehidupan masyarakat kecil. Nasib orang-orang seperti Sri itu merasa selalu dirugikan setiap pergantian pemerintah . Adapun pemerintah hanya menjanjikan perubahan tanpa batas waktu, sampai habislah masa kerja para yang mulia terhormat itu. Di sinilah, menurut saya apabila antara etika kejujuran dan politik dapat berjalan bersama, akan dapat menghasilkan suatu kehidupan yang indah, meskipun dalam praktiknya tidak mungkin.

Tetapi setidaknya dari kutipan di atas, bahwa etika politik memang sangat diperlukan sebagai prasyarat bagi upaya mewujudkan tatanan dan kehidupan politik yang demokratis yang jujur. Oleh karenanya kejujuran dalam berpolitik mutlak memerlukan keberanian. Suatu keberanian yang dilandasi kesadaran, proses berpolitik yang tak sehat tak hanya merusak proses demokrasi yang tengah dibangun. Tetapi, juga merusak tatanan dan sistem politik yang seharusnya dijunjung tinggi dan dipatuhi bersama. Artinya, secara kasat mata publik melihat, politik saat ini masih didominasi permainan-permainan tidak sehat yang melahirkan para politisi bermental tidak sehat. Sehingga, orientasi politiknya pun tidak sehat, sebatas memperkaya dan menguntungkan diri sendiri dan atau kelompoknya meski harus menempuh cara-cara yang tidak sehat. Pertanyaan yang sering muncul adalah bagaimana kemudian caranya membangun kehidupan berpolitik dengan nilai kejujuran?

Kejujuran adalah sesuatu yang dipercayakan kepada seseorang, baik harta, ilmu pengetahuan, dan hal-hal yang bersifat rahasia yang wajib diperlihara atau disampaikan kepada yang berhak menerima, harus disampaikan apa adanya tidak dikurangi atau ditambah-tambahi (Barmawie Umary, 1988: 44). Orang yang jujur adalah orang yang mengatakan sebenarnya, walaupun terasa pahit untuk disampaikan. Sesungguhnya, setiap orang di dalam hatinya dipastikan memiliki dasar-dasar kejujuran. Jika seseorang sedang berada di dalam kediriannya, maka kata hatinya pasti akan menyatakan bahwa dia ingin melakukan kejujuran. Seorang penjahat sekalipun, sekali waktu akan terdapat dorongan di dalam dirinya untuk melakukan kebaikan, meskipun sekali saja di dalam kehidupannya. Makanya, juga dipastikan bahwa para politisi yang sekaligus juga para cendekiawan akan memiliki kejujuran sebagai inti kehidupannya.

Jika dipikir secara mendalam, bahwa seseorang melakukan sesuatu tentu disebabkan oleh beberapa factor. Di dalam paradigm fakta social dan perilaku social, maka ada factor eksternal yang menentukan terhadap perilaku seseorang. Jika di dalam kenyataan bahwa ada seorang politisi yang tidak jujur di dalam kehidupannya, maka juga ditentukan oleh adanya faktor eksternal tersebut.
Jika berbicara para politisi, maka tentunya adanya tuntutan yang bercorak eksternal, yaitu, tuntutan struktur politik yang sangat kuat. Kenyataannya bahwa partai politik membutuhkan banyak dana untuk biaya operasional partai dan juga biaya social partai politik. Bukankah partai politik harus membangun imaje dengan melakukan kampanye melalui berbagai event dan media. Bukankah partai politik juga harus membangun jaringan dengan konstituennya untuk membangun kesepahaman dan kebersamaan. Bukankah partai politik harus mengeluarkan biaya social untuk meraih kekuasaan dan sebagainya.

Fakta-fakta ini kemudian menjadi penyebab mengapa elit parpol harus mengembangkan jaringan capital untuk pembiayaan partainya. Makanya di sana-sini lalu muncul berbagai tindakan penyelewengan yang sistematis, sebagaimana yang dilakukan oleh elit-elit politik. Dengan DPR memiliki kewenangan penganggaran, selain legislasi dan pengawasan, maka dengan modalitas kewenangan penganggaran tersebut, maka DPR sungguh menjadi sangat berkuasa di dalam mengatur penganggaran.
Oleh karenanya, politik berbasis hati nurani dan kejujuran memang menjadi bagian yang seharusnya tidak terpisahkan dari seluruh eksponen elit politik di mana pun posisinya. Jika di DPR, maka yang harus dikembangkan adalah membangun trust. Jika menjadi pemimpin daerah, maka juga harus mengembangkan sikap dan tindakan yang menjunjung kebenaran dan kejujuran.

Solusi alternatif
Salah satu cara bagaimana mengubah kondisi bangsa ini menurut Prof. Dr. Ahmad Rofiq Guru Besar IAIN Walisongo Semarang yaitu:
Pertama, adalah demokrasi. Dengan tingkat pendidikan yang semakin merata maka demokrasi akan semakin baik. Benih demokrasi akan tumbuh menjadi pohon demokrasi jika pendidikan membaik. Kedua, dengan kejujuran. Kejujuran sangat penting sekali dalam upaya memperbaiki keadaan bangsa ini yang penuh dengan kepalsuan. Mulai dari persoalan korupsi, kolusi dan nepotisme. Namun, katanya, kejujuran ini tidak dapat terwujud tanpa adanya dukungan dari pemerintah. “Misalnya, di Singapura itu kan sudah tabiatnya orang sana jorok, tapi oleh Lee Kuan Yew dengan tangan besinya dipaksakan mereka untuk biasa bersih. Ketiga adalah aset institusi sosial dan kultural. “Negara harus berterima kasih kepada kultural. Demikian pula dengan agama yang membutuhkan institusi negara. Negara juga harus berterima kasih kepada institusi sosial. Persoalannya, pemerintah kurang menghargai aset-aset institusi sosial. Tidak ada kesadaran historis dari pemerintah bahwa institusi sosial semacam Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah juga membawa perubahan bangsa ini ke arah yang lebih baik. sedangkan keempat adalah sistem. “Kekuatan moral dan struktural perlu didukung oleh negara. Yang menjadi persoalannya adalah struktural bangsa ini sangat lemah.

Semoga 2014 nanti, yang terpilih para politisi yang mengedepankan kejujuruan berpotik, bukan mendahulukan bagaimana mengembalikan “pokoknya”, ini harapan masyarakat. Dengan mengendepankan kejujuran pastinya negara akan sejahtera, adil dan makmur. Amin… amin…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.